Lecturer

Halal Bihalal Keluarga Besar Departemen Pendidikan Geografi

Momentum di Bulan Syawal dijadikan kesempatan untuk bersilaturahmi bagi umat islam khususnya di Indonesia. Termasuk di lingkungan Departemen Pendidikan Geografi FPIPS UPI, Jum’at 15 Syawal 1439 H atau bertepatan dengan 29 Juni 2018 menyelenggarakan halal bihalal dengan seluruh dosen, dosen purna bhakti, tendik, beserta keluarga. Kegiatan yang berlangsung di GH Universal Hotel Bandung ini, dihadari oleh Ketua Departemen Pendidikan Geografi Dr. Ahmad Yani, M.Si, Ketua Prodi SPIG (Survei Pemetaan dan Informasi Geografi) Dr. Iwan Setiawan, Ketua Prodi SaIG (Sains Informasi Geografi) Dr. Lili Somantri, M.Si, para guru besar Prof. Dr. Darsiharjo, Prof. Dr. Dede Sugandi, Prof. Dr. Wanjat Kastolani, dan para dosen aktif di Departemen Pendidikan Geografi.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut beberapa dosen purna bhakti Departemen Pendidikan Geografi  yaitu Drs. Al Rasyid, WS.S.U beserta ibu, Drs. Idris Abdurachmat, M.Pd beserta ibu, Drs Ma’mur Tanudidjaja, dan Drs Jakaria M. Nur, M.Si. Ketua Departemen Pendidikan Geografi memberikan sambutan dengan menyampaikan kemajuan terkini di Departemen, kemudian ditambahkan oleh Sekretaris Departemen Dr. rer. nat Nandi, M.T., M.Sc dengan menyampaikan program-program besar yang akan dilaksanakan ke depannya.

Dalam acara yang terasa kekeluargaannya tersebut, para sesepuh yang hadir satu per satu diberikan kesempatan untuk menyampaikan wejangan, saran serta masukan untuk kemajuan Departemen Pendidkan Geografi. “Silaturahmi tidak hanya dilakukan setahun sekali, tapi harusnya setiap saat” tutur Pa Idris, beliau juga menyampaikan bahwa para dosen seyogianya terus mengembangkan ilmu secara vertikal maupun horizontal antara lain dengan mendisiplinkan diri dan mendisiplinkan ilmu secara terus-menerus. “Kemajuan yang ada di Departemen Pendidikan Geografi saat ini hendaknya harus tarus ditingkatkan antara lain dengan meningkatkan jurnal agar terakreditasi internasional”, kata Pa Rasyid yang saat ini beliau masih aktif menyusun buku yang berjudul “Peta Mental Mikro Tawaf Dua Kali Mati Dua Kali Hidup Perjalanan Menuju Akhirat”.

Acara halal bihalal yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan doa dan musafahah, serta dilanjutkan dengan foto bersama dan menikmati hidangan makanan yang telah disediakan.

Rapat Konsolidasi Pengurus Prodi SPIG

Ketua Prodi SPIG baru Dr. Iwan Setiawan, S.Pd., M.Si memimpin rapat konsolidasi pada hari Selasa, 26 Juni 2018 dari Pukul 10.00 – 12.00 WIB.  Rapat yang dilaksanakan di Ruang Laboratorium SPIG itu, dihadiri oleh dosen, staff administrasi dan laboran yang merupakan pengurus prodi SPIG, terdiri dari:

  1. Bidang Akademik: Arif Ismail S.Si., (Koordinator), Asri Ria Afriani, S.T., M.Eng (Anggota).
  2. Bidang Kemahasiswaan dan Alumni: Muhammad Ihsan, S.T., M.T (Koordinator), Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc (Anggota).
  3. Bidang Penelitian, Pengembangan, dan P2M: Nanin Trianawati, S.T., M.T (Koordinator), Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc (Anggota).
  4. Bidang Laboratorium: Prof. Dr. Dede Sugandi, S.Pd., M.Si (Koordinator), Muhammad Abia, S.Pd (Anggota).

Hadir pula pada kesempatan tersebut Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Sc dan Dr. rer. nat. Nandi, M.T., M.Sc., Ph.D yang banyak memberikan laporan terkait kegiatan yang telah dikerjakan pada kepengurusan yang telah lalu. Selain itu setiap koordinator bidang memaparkan berbagai program yang telah dilaksanakan. “Jadi, dengan adanya rapat konsolidasi ini memberikan gambaran kepada saya kegiatan apa saja yang telah berjalan dan dapat dilanjutkan di masa yang akan datang,” pungkas Ketua Prodi SPIG.

Seminar Proposal Tugas Akhir SPIG

Mahasiswa SPIG angkatan 2015 yang berjumlah 17 orang melakukan seminar proposal tugas akhir. Seminar proposal yang masing-masing dibahas oleh dua orang dosen, dilaksanakan hari Selasa, 5 Juni 2018 bertempat di Lab SIG dan Lab Fisik Departemen Pendidikan Geografi FPIPS UPI. Moderator di Lab SIG adalah Asri Ria Afriani, S.T., M.Eng, sedangkan di Lab Fisik adalah Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc.

Peserta seminar proposal tugas akhir, judul proposal, beserta dosen pembahasnya dapat dilihat pada gambar tabel di bawah ini.

Kegiatan ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar ahli madya (A.Md) pada prodi SPIG. Setelah menyajikan proposal, peserta seminar menerima masukan untuk perbaikan proposalnya dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh dosen pembahas. Acara yang dimulai dari Pukul 08.00 WIB ini berakhir pada Pukul 12.00 WIB.

Buka Shaum Bersama Prodi, Himpunan, dan Alumni SPIG

Oleh: Anisa Dalilah (SPIG, 1708058)

Himpunan mahasiswa Prodi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG), mengadakan buka shaum bersama pada Hari Jumat, 25 Mei 2018 di Jati Bono Resto, Jl. Punclut No. 27 Pagerwangi, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Dihadiri oleh 58 orang mahasiswa Prodi SPIG angkatan 2016 dan 2017, 4 orang alumni dan 2 orang dosen. Kegiatan dimulai pada Pukul 17.00 WIB sampai dengan selesai. Kegiatan ini dibuka oleh Bapa Dr. Lili Somantri, S.Pd, M.Si. bersama Bapa Muhammad Ihsan, ST, MT.

Setelah kami menunggu beberapa saat, tiba waktunya adzan maghrib lalu kami langsung berbuka shaum dengan diawali makan ta’jil, kemudian setelah berbuka shaum, tak lupa kami melakukan sholat maghrib setelah selesai solat maghrib lalu kami makan bersama-sama. Setelah makan lalu kami ngumpul kembali dan berdiskusi, bertukar pikiran dan pengalaman bersama dosen, alumni dan mahasiswa lainnya terkait progres Himpunan Prodi SPIG kedepannya. 

Selain untuk buka bersama serta diskusi, acara inipun bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar dosen, alumni serta mahasiswa lainnya agar lebih akrab serta mengetahui keluh-kesah mahasiswa di kampus dan juga solusi akan masalah tersebut.

Waktu tak terasa karena banyak obrolan yang sangat menarik di dalam diskusi tersebut, akan tetapi waktu telah larut malam lalu kami tutup acara tersebut dengan berbagai bekal ilmu pengetahuan, solusi-solusi dari berbagai masalah-masalah yang dapat terpecahkan serta pengalaman dari dosen, alumni dan mahasiswa lainnya.

Ekspose PPL SPIG

Setelah menempuh Program Pengenalan Lapangan (PPL) selama kurang lebih dua bulan, 21 orang mahasiswa angkatan 2015 Program Studi (Prodi) Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memaparkan hasil dan pengalaman mereka kepada dosen dan seluruh adik tingkatnya. Ekspose yang yang dilaksanakan Jumat, 25 Mei 2018 tersebut digelar di Auditorium Gedung Muhammad Nu’man Somantri.

Acara yang dipandu oleh kepanitian mahasiswa SPIG angkatan 2016 tersebut, diawali oleh sambutan-sambutan di antaranya sambutan dari Ketua Pelaksana Bayu Alam Putra Oki, sambutan Ketua Prodi SPIG Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si, sambutan dari Wakil Dekan I Dr. Mamat Ruhimat, M.Pd, dan sambutan tamu undangan dari PT. Geocal Mapping Solution H. Dudi.

Menginjak acara inti setiap mahasiswa bersama dengan kelompoknya, mempresentasikan kegiatan di tempat PPL nya masing-masing antara lain meliputi latar belakang kegiatan, profil perusahaan, hasil PPL, kendala-kendala yang dihadapi, solusi, dan kesimpulan.  Kemudian pemamparan tersebut dikomentari oleh dosen pengujinya masing-masing untuk memperbaiki laporan dan menjadi pembelajaran bagi adik tingkatnya agar kegiatan PPL kedepan menjadi lebih baik lagi. Adapaun nama-nama mahasiswa, instansi tempat PPL dan dosen pembimbingnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kegiatan ekspose seperti ini akan memperkuat konektivitas antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.  Kekurangan apa saja selama menempuh pendidikan akan diketahui setelah mengalami PPL di instansi/ perusahaan, sehingga dengan demikian dapat menjadi evaluasi dan perbaikan dalam proses pembelajaran kedepan.

Diskusi Kemahasiswaan Departemen Pendidikan Geografi

Perwakilan aktivis mahasiswa dan jajaran dosen dari Departemen Pendidikan Geografi duduk bersama memenuhi undangan Ketua Departemen Pendidikan Geografi Dr. Ahmad Yani, M.Si di Ruang Laboratorium Fisik Lantai IV Gedung Nu’man Somantri Universitas Pendidikan Indoensia. Pertemuan yang berlangsung hari Rabu, 9 Mei 2018 Pukul 16.30 – 18.30 WIB tersebut, mendiskusikan arah perkembangan kemahasiswaan kedepan dalam kerangka Departemen.

Dosen yang hadir dalam acara tersebut adalah Dr. Lili Somantri, M.Si; Dr.rer.nat Nandi, M.T., M.Sc; Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc; Muhammad Ihsan, S.T., M.T; Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc; dan Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc. Adapun perwakilan mahasiswa yang hadir dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Geografi dan Prodi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) kurang lebih berjumlah 15 orang antara lain Risnanda Naufal, Wiganda, Wildan Pranawa, Andre, Adi Bima N, Lutfia Ismira, Islah Munawar, Chumaini Ali, Fauzia R, Muhammad Rizal, Muhammad Hakim, Moch Elrizal, M Hafid, Adam Rilo, dan lain-lain.

Ketua Departemen membuka diskusi dengan sejarah dan dinamika prodi yang ada di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS). “Beberapa prodi ada yang terbentuk langsung di bawah FPIPS, namun untuk Prodi Pendidikan Geografi, Prodi SPIG, dan Prodi Sains Informasi Geografi (SaIG) sama-sama didirikan oleh dosen Departemen Pendidikan Geografi, sehingga posisinya harus ditegaskan kembali bahwa secara struktural berada di bawah Departemen Pendidikan Geografi”, tutur beliau. “Konsekuensi dari posisi struktural tersebut secara otomatis berdampak pada berbagai kegiatan akademik dan kemahasiswaan yang tidak boleh melangkahi ketua departemen dalam berbagai kegiatan, sehingga ada koordinasi terlebih dahulu sebelum naik ke level Fakultas”, tegasnya.

Sejalan dengan hal tersebut untuk kelancaran kegiatan kemahasiswaan pada setiap prodi, Ketua Departemen memberikan amanah kepada tiga orang dosen untuk menjadi dosen pembimbing kemahasiswaan, masing-masing pada Prodi Pendidikan Geografi (Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc), Prodi SPIG (Muhammad Ihsan, S.T., M.T), dan Prodi SaIG (Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc). Diskusi kemahasiswaan dalam kerangka Departemen ini, berdampak juga terhadap Himpunan Pecinta Alam JANTERA yang diberikan tawaran oleh Ketua Departemen untuk naik ke level Departemen sehingga bisa menerima anggota muda tidak hanya dari Pendidikan Geografi melainkan dari Prodi SPIG dan Prodi SaIG.

Untuk proses kaderisasi mahasiswa baru Prodi SaIG yang akan dimulai pada tahun ini, secara umum akan mengikuti pola kaderisasi mahasiswa Pendidikan Geografi dengan turut menyertakan pola kaderisasi dari mahasiswa SPIG seperti dalam kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dan Character Building.

Moment ini akan menjadi moment bersejarah bagi pergerakan mahasiswa di Departement Pendidikan Geografi kedepannya. Beranjak dari moment ini ternyata telah terjalin harmonisasi antar aktivis mahasiswa lintas prodi dalam satu kerangka Departemen Pendidikan Geografi. Optimisme dan kerjasama yang telah terbentuk semoga menjadi modal berharga untuk regenerasi dan kemajuan kemahasiswaan di Departemen Pendidikan Geografi.

Praktikum Instansi Mata Kuliah Sistem Informasi Geografis

Oleh: Deden Kusmayadi (SPIG, 1606769)

Tanggal 7 – 8 Mei 2018 mahasiswa Prodi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) Angkatan 2016 yang mengambil mata kuliah Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Geografi yang berjumlah 76 orang, melaksanakan pratikum ke tiga instansi di daerah Bogor dan Jakarta Timur.

Praktikum mata kuliah yang diampu oleh tiga orang dosen yaitu Dr. Lili Somantri, S.Pd, M.Si, Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc dan Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc tersebut, pada hari pertama mengunjungi instansi BIG (Badan Informasi Geospasial) kami disambut dengan baik oleh pihak BIG, di sana kami dijelaskan apa itu BIG dan apa saja tugas dari instansi tersebut. Pada sesi tanya jawab sangat menyenangkan karena saat ada yang bertanya pihak BIG memberi kami hadiah. Di BIG juga dijelaskan bagaimana peta RBI dibuat dan cara mendownload peta RBI.

Setelah dari BIG kami beralih ke LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), di sana rombongan disambut dengan baik. LAPAN adalah instansi yang mengerjakan data berupa data citra yang diambil oleh satelit dan diolah di LAPAN. Di sana juga kami diajak berkeliling untuk melihat ruang kerja pengerjaan data citra dan jenis-jenis data citra.

Hari kedua kami melanjutkan kunjungan instansi menuju BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), di sana kami diberikan informasi bagaimana kerja BNPB dan apa saja bencana yang sedang melanda Indonesia dan kesulitan apa saja yang pernah didapat oleh BNPB.

Di BNPB kami diajak untuk berkeliling melihat ruangan-ruangan yang ada di BNPB, cukup menarik karena banyak pembelajaran bencana yang dibuat menarik agar kami paham bagaimana jika bencana tersebut terjadi. Di sana juga kami dapat mengetahui gejala-gejala alam yang akan mengakibatkan bencana dan kami diberikan bingkisan berupa buku tentang bencana secara gratis oleh pihak BNPB.

Status dan Pemanfaatan Drone di Indonesia: Kontrol Kualitas Produk Pemetaan

Oleh: Muhammad Ihsan, S.T., M.T (Dosen Prodi SPIG)

 

Pemanfaatan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) telah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. UAV atau biasa disebut drone merupakan suatu wahana  pesawat tanpa awak yang dapat dikendalikan baik secara otomatis atau manual. Salah satu pemanfaatan drone adalah untuk pemetaan. Pemetaan menggunakan UAV atau Fotogrametri UAV adalah Wahana pengukuran fotogrametri udara, yang beroperasi dikendalikan dari jauh, semi-otomatis, atau secara otomatis penuh, tanpa pilot duduk di wahana. UAV-photogrammetry dapat dipahami sebagai alat pengukuran baru fotogrametri dengan karakteristik relatif mudah dalam pengoperasian, jarak dekat, resolusi tinggi, real-time dan murah.

Gambar 1 UAV untuk pemetaan

Pemetaan dengan UAV merupakan suatu strategi atau cara untuk pemetaan dengan skala besar dengan waktu yang lebih cepat dan efisien. Keunggulan lain dari pemetaan dengan UAV adalah tingkat kesulitan yang rendah sehingga pemetaan dengan metode ini sangat umum digunakan.  Gambar 1 menamplkan perbandingan metode pemetaan dengan UAV dan metode – metode lain

Gambar 2 Perbandingan UAV dengan metode pemetaan lain

Permasalahan yang muncul seiring berkembangnya penggunaan UAV adalah regulasi atau peraturan terkait dengan pemanfaatan UAV. Regulasi dibutuhkan untuk mengatisipasi ketidakaturan dalam pengguna UAV, hal ini dilatarbelakangi permasalahan yang terjadi di beberapa negara terkait dengan penggunaan UAV. Salah satu permasalahannya adalah perekaman informasi geospasial di daerah perbatasan atau dilarang. Berikut beberapa regulasi yang akan diajukan dari berbagai instansi yang akan dirumuskan sebagai aturan tertulis penggunaan UAV.

Kementerian Pertahanan

Perlindungan terkait pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan tanggung jawab dari Kementrian Pertahanan. Secara konseptual, pertahanan negara dibagi menjadi dua aspek yaitu aspek fungsi pemerintahan dan potensi pertahanan. Potensi pertahanan merupakan suatu tindakan preventif terkait tentang ancaman kepada negara. Ada dua jenis ancaman yaitu ancaman militer dan non militer. Gambar 3 menampilkan jenis ancaman militer dan non militer

Gambar 3 Bentuk ancaman nasional

Salah satu perlindungan keamanan yang harus dilindungi adalah perlindungan terkait dengan akuisisi informasi geospasial, khususnya untuk di daerah konflik atau perbatasan. Seiring dengan perkembangan teknologi surta, penggunaan pesawat tanpa awak (UAV) untuk pemetaan menjadi salah satu solusi untuk menanggulangi permasalahan di daerah perbatasan.

Guna mengatur penggunaan UAV pada kegiatan surta di daerah perbatasan atau ancaman Kementrian Pertahanan membentuk Permenhan No. 26 Tahun 2013 tentang PAM Survey dan Pemetaann Wilayah. Adapun isi dari Permenhan 26 Tahun 2013 adalah :

Permenhan Nomor 26 Tahun 2013 terdiri dari 13 Bab dan 21 Pasal

  • BAB – I KETENTUAN UMUM : 1 Psl.
  • BAB – II PENYELENGGARAAN SURTA : 2 Psl.
  • BAB – III SC & SO : 3 Psl.
  • BAB – IV JENIS & LOKASI KEGIATAN : 2 Psl.
  • BAB – V PERSONEL & WAHANA : 2 Psl.
  • BAB – VI ALPAL & JANGKA WAKTU : 2 Psl.
  • BAB – VII PERTIMBANGAN ASPEK HAN  : 1 Psl.
  • BAB – VIII PELAKSANAAN KEGIATAN  : 1 Psl.
  • BAB – IX PENGAWASAN KEGIATAN  : 1 Psl.
  • BAB – X KERJASAMA DG PIHAK ASING : 1 Psl.
  • BAB – XI SANKSI : 1 Psl.
  • BAB – XII KETENTUAN PERALIHAN : 2 Psl.
  • BAB – XIII PENUTUP  : 2 Psl.

Permenhan No. 26 Tahun 2013 lahir dari kebutuhan negara akan perlindungan kedaulatan negara khususnya di daerah perbatasan NKRI seperti yang tercantum pada Undang Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Implementasi Pemetaan dengan UAV ini mulai dilakukan di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Gambar 4 menampilkan rencana pemetaan dengan UAV di daerah Kalimantan. Diharapkan dengan telah dibentuknya undang-undang dan pemanfaatan teknologi UAV, permasalahan terkait pertahanan Indonesia dapat lebih baik.

Gambar 4 Pemanfaatan UAV untuk pemetaan batas negara

Kementrian Perhubungan

Maraknya penggunaan drone dan UAV untuk berbagai macam kebutuhan dianggap akan menjadi ancaman jika tidak ada aturan yang resmi. Ancaman tersebut dapat berbentuk penyalahgunaan penggunaan UAV seperti perekaman daerah privasi dan sarana untuk menyalurkan barang terlarang. Selain itu UAV juga berpotensi untuk jatuh dan dapat melukai orang dibawahnya. Hal tersebut melatar belakangi dinas perhubungan dalam membentuk suatu peraturan terkait pemanfaatan UAV. Dalam seminar ini, Kemenhub memaparkan rencana peraturan tentang penggunaan wilayah udara.

Peraturan tersebut direncanakan akan tertuang pada Peraturan Menteri 90 Tahun 2015 tentang Penggunaan Bersama Ruang Udara. Pemanfaatan UAV merupakan salah satu topik pembahasan peraturan tersebut. Kemenhub mengatur tentang area dan wilayah yang tidak boleh dilewati oleh UAV, area tersebut antara lain :

  1. Prohibited Area, 500 m diluar batas lateral
  2. Restricted Area, 500 m diluar batas lateral
  3. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP)
  4. Controlled Airspace
  5. Take-off dan Landing, Circling Area, Jalur Penerbangan
  6. Uncontrolled Airspace, Dibatasi hingga ketinggian 500 ft (150 m)

Kawasan – kawasan tersebut dibatasi guna menjaga dan melindungi aset rahasia negara. Salah satu daerah prohibited area adalah daerah daerah industri sedangkan daerah restricted sepert daerah perbatasan Indonesia. Gambar menampilkan wilayah yang dibatasi untuk penerbangan UAV

Gambar 5 Kawasan penggunaan UAV yang dibatasi di Pulau Jawa

Gambar 6 Kawasan penggunaan UAV yang dibatasi di Pulau Sumatera

Selain penentuan kawasan terbang, Kemenhub juga mengatur terkait perizinan penerbangan dengan UAV. Izin ini dimaksudkan untuk kepentingan keselamatn penerbangan. Izin terkait penggunaan UAV adalah dimaksudkan untuk kepentingan pemerintahan sepert patroli batas wilayah negaram pengamatan cuaca, pengamatan aktivitas hewan dan tumbuhan serta survei pemetaan. Beberapa persyaratan untuk mengajukan izin penggunaan UAV adalah :

  1. spesifikasi teknis airborne system;
  2. spesifikasi teknis ground system;
  3. maksud dan tujuan pengoperasian;
  4. rencana pengoperasian (flight plan);
  5. prosedur emergency

Badan Informasi Geospasial (BIG)

Pemanfaatan UAV untuk survei dan pemetaan merupakan teknologi yang umum digunakan dewasa ini. Peraturan terkait survei dan pemetaan di Indonesia telah diatur oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Badan Informasi Geospasial selaku instansi yang bertanggung jawab akan hal yang terkait dengan inforamasi geospasial merumuskan beberapa aturan guna mendukung pemetaan menggunakan UAV. Secara umum, pemanfaatan UAV dapat dilakukan untuk pemetaan seperti tercantum pada Pasal 27 ayat 1 yang menyebutkan bahwa Pengumpulan DG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a dilakukan dengan survei dengan menggunakan instrumentasi ukur dan/atau rekam, yang dilakukan di darat, pada wahana air, pada wahana udara, dan/atau pada wahana angkasa ; pencacahan; dan/atau cara lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan pasal tersebut, penggunaan UAV merupakan bentuk dari perkembangan ilmu pengetahuan untuk survei pemetaan. Pemanfaatan UAV untuk pemetaan juga tidak terlepas dari izin. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014  Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial Paragraf 2 menyebutkan bahwa Pasal 10 Pengumpulan DG wajib memperoleh izin dalam hal:

  1. dilakukan di daerah terlarang;
  2. berpotensi menimbulkan Bahaya; atau
  3. menggunakan Wahana milik asing selain satelit.

Pemberian izin dalam hal pengumpulan data geospasial dilakukan oleh Kepolisian NKRI untuk pemberian izin kawasan keamanan, dan kementrian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan untuk pemberian izin di wilayah pertahanan.

Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional ( L A P A N )

Guna berdaptasi terkait perkembangan teknologi khususnya perkembangan UAV, LAPAN selaku instansi yang bergerak di bidang riset dan teknologi penerbangan berupaya untuk terus mengkaji dan meneliti terkait dengan pemanfaatan UAV.  Gambar menampilkan beberapa kegiatan yang dilakukan LAPAN terkait dengan riset UAVز

Gambar 7 Kegiatan riset UAV yang dilakukan LAPAN

Guna mengatur dan melindungi kegiatan riset penerbangan oleh LAPAN, dibentuk suatu peraturan yang mengatur tentang kegiatan penerbangan. Kegiatan riset untuk bidang penerbangan tercantum pada UU Penerbangan No. 1 Tahun 2009 yang berbunyi

Pasal 10

Pembinaan  untuk mengembangkan kemampuan armada angkutan udara nasional yang tangguh serta didukung industri pesawat udara yang andal sehingga mampu memenuhi kebutuhan angkutan, baik di dalam negeri maupun dari dan ke luar negeri

Pasal 12

Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dilakukan dengan berkoordinasi dan bersinergi dengan lembaga yang mempunyai fungsi perumusan kebijakan dan pemberian pertimbangan di bidang penerbangan dan antariksa

Pasal 370

Pemberdayaan industri dan pengembangan teknologi penerbangan wajib dilakukan Pemerintah secara terpadu dengan dukungan semua sektor terkait untuk memperkuat transportasi udara nasional.

Pemanfaatan dan penelitian terkait UAV telah dilakukan LAPAN secara intensif dalam 5 tahun terakhir. LAPAN menyebutkan kemajuan teknologi dalam 10 tahun terakhir akan sangat pesat mengingat manfaat dan kemudahan dalam penggunaan UAV khususnya untuk pertahanan nasional. Gambar menampilkan perkiraan dari potensi pasar untuk UAVز

Gambar 8 Potensi pasar UAV 20 tahun mendatang

Semakin menjamurnya penggunaan drone mengakibatkan beberapa isu terkait penyalahgunaan drone tersebut. Pihak penerbangan di Amerika menyebutkan bahwa penggunaan drone menyebabkan beberapa kerugian, kerugian tersebut antara lain :

  1. Privasi Individu
  2. Keselamatan manusia dan properti di tanah
  3. Menjaga teroris dari upaya pencarian
  4. Keselamatan dengan wahana terbang lain
  5. Gangguan sinyal telekomunikasi

Selain melakukan riset, LAPAN juga aktif dalam membahas regulasi penggunaan drone. Peraturan terkait teknologi UAV dianggap perlu karena perkembangan penggunaan yang sangat pesat. LAPAN mengusulkan bahwa regulasi penggunaan drone dibagi menjadi empat aspek yaitu aspek teknologi, operasi, personil, dan organisasi.

Aspek Teknologi

            Aspek ini membhas tentang standar pesawat tanpa awak yang digunakan. Standar tersebut antara lain standar rancang bangun, proses testing, modifikasi dan proses sertifikasi. LAPAN mengusulkan adanya regulas untuk pemanfaatan teknologi oleh pemerintah, kepentingan keamanan, dan publik.

Aspek Operasional

            Penggunaan drone harus didasarkan pada standar operasional penerbangan yang telah ditentukan oleh instansi terkait. Beberapa aspek terkait operasional antara lain flight plan bagi private flight, unscheduled flight, dll. Dalam symposium ICAO disebutkan bahwa regulasi yang akan ditetapkan oleh ICAO untuk menyelamatkan penerbangan sipil. Jika terjadi catastrophic failure maka yang berlaku adalah peraturan dalamnegeri itu sendiri. Sehingga perlu ditetapkan wilayah udara tertentu untuk menjadi daerah terbang bagi UAV

Aspek Personel

            LAPAN mengusulkan untuk pengguna UAV untuk jenis tertentu harus memiliki sertifikasi kemampuan terbang. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan para personil yang menerbangkan UAV telah paham aturan penerbangan sipil dan teknis penerbangan pesawat. LAPAN juga mengusulkan adanya sertifikasi berjenjang untuk tingkat kesulitan atau kategori kelas UAV

Aspek Organisasi

            Wadah pengguna UAV umumnya berkumpul pada suatu organisasi atau komunitas. Organisas bertugas dalam mewadahi dan pihak yang bertugas untuk kualitas kontrol wahana UAV yang masuk ke Indonesia. Organisasi juga dapat dijadikan wahana registrasi kelas-kelas UAV sehingga lebih terstruktur

KESIMPULAN

Penggunaan UAV dalam berbagai bidang khususnya pada survei pemetaan telah menjadi solusi untuk akuisisi data informasi geospasial yang lebih cepat dan murah. Guna melindungi dan menjaga kegiatan penggunaan UAV, pemerintah membentuk regulasi terkait penggunaan UAV. Beberapa instansi yang telah membentuk dan merumuskan aturan terkait dengan UAV adalah

  • Kemenhub : Sertifikasi produk drone, perijinan penggunaan ruang udara, lisensi personel.
  • TNI AU, Kemhan, Polhukam : Penggunaan drone militer terkait pertahanan & keamanan nasional.
  • Badan Informasi Geospasial : Peraturan terkait pemetaan dengan drone
  • LAPAN : Drone untuk penelitian.

Pemerintah diharapakan terus mendukung dalam pemanfaatan drone untuk berbagai kegiatan kenegaraan khususnya di bidang survei dan pemetaan . Dengan dibentuknya regulasi dan peraturan terkait pemanfaatan UAV diharapkan adanya percepatan dan peningkatan kualitas survei dan pemetaan di Indonesia.

Pameran Hari Pendidikan Nasional

Oleh : Resna Rizkiani (SPIG, 1705088)

Rabu, 2 Mei 2018 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperingati hari pendidikan nasional salah satunya dengan menggelar pameran pendidikan. Pameran tersebut menampilkan berbagai macam keunikan dan informasi program studi (prodi) yang ada di UPI. Mahasiswa dari Prodi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) memamerkan beberapa alat yang biasa digunakan saat perkuliahan dan praktikum lapangan. Alat tersebut diantaranya adalah Electronic Total Station ( ETS ), Global Positioning System (GPS), Waterpass, statip, rambu ukur, Drone, helm dan kemeja proyek.

Pameran yang digelar di depan ATM center UPI tersebut, diikuti oleh beberapa prodi dari beberapa fakultas diantaranya Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Pendidikan Keolahragaan, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, dan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis.

Prodi SPIG diwakili oleh beberapa mahasiswa yang dikhususkan untuk menjelaskan beberapa peralatan yang digunakan untuk pengukuran kepada para pengunjung yang terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa dari Universitas lain, serta mahasiswa dari UPI. Pengungjung pun diperbolehkan untuk mempelajari cara penggunaan alat tersebut. Pameran ini dimanfaatkan oleh prodi SPIG sebagai ajang untuk mempromosikan prodi ini.

Kunjungan SMAN 4 Sukabumi

Rabu, 2 Mei 2018 Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI menerima kunjungan dari SMAN 4 Sukabumi. Sebanyak 70 orang siswa beserta guru-guru pembimbing, disambut oleh Wakil Dekan I FPIPS Dr. Mamat Ruhimat, M.Pd di ruang 30 lantai 5 Gedung Muhammad Nu’man Somantri. Turut hadir pada acara tersebut Kepala Bagian Administrasi FPIPS Suharto, S.Pd., M.AP dan Dosen Program Studi (Prodi) Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc.

Prakata dari perwakilan SMAN 4 Sukabumi menyampaikan bahwa maksud kedatangannya ke FPIPS yaitu ingin mengetahui informasi masuk ke prodi yang ada di FPIPS. Selain itu, harapannya siswa kelas XI yang dibawa ini termotivasi dan dapat bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sambutan yang disampaikan oleh Wakil Dekan I Bidang akademik mengapresiasi para guru pembimbing yang telah tepat membawa para siswa dan siswinya ke salah satu dari 14 perguruan tinggi Klaster I di Indonesia yaitu UPI BH (Badan Hukum). Selain itu beliau menggambarkan kondisi FPIPS secara umum yang kemudian dilanjutkan oleh Kepala Administrasi FPIPS secara lebih mendetil.

Terakhir yaitu pengenalan 2 prodi sekaligus yakni prodi Sains Informasi Geografi (SaIG) dan prodi SPIG oleh Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc. Acara yang berlangsung dari pukul 11.00 – 12.10 WIB diakhiri dengan pembagian brosur SaIG dan SPIG kemudian penyerahan cindera mata dari SMAN 4 Sukabumi.