International Geography Seminar 2018 at Malaysia

Oleh: Muhammad Abia S

IGEOS (International Geography Seminar)  2018 merupakan tahun ke-2 pelaksanaan konferensi internasional geografi setelah pelaksanaan pertama nya sukses dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Geografi FPIPS UPI pada tahun 2017 di Universitas Pendidikan Indonesia. Pada tahun kedua ini IGEOS oleh Departemen Geografi dan Lingkungan Universitas Pendidikan Sultan Idris dan berkolaborasi dengan Departemen Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di kampus Universitas Pendidikan Sultan Idris, Tanjung Malim, Malaysia pada tanggal 3-4 Desember 2018.

Tema yang diangkat pada IGEOS kali ini adalah “Stretching the Harmony: A Paradigmatic Shift from Geography and Enviromental Works”. Menurut Ketua Pelaksana IGEOS 2018, Assoc. Prof. Dr Fauziah Che Leh, konferensi ini dimaksudkan mempertemukan akademisi, peneliti, dan ahli untuk saling bertukar pengetahuan serta ide pada permasalahan kesehatan dan lingkungan yang terjadi pada abad 21 ini, seperti pemanasan global, polusi, serta bencana alam dan lingkungan yang mempunyai dampak besar dalam kehidupan manusia. Terdapat 34 sub topik yang menjadi pembahasan pada IGEOS 2018 ini.

IGEOS 2018 ini menghadirkan 3 pembicara utama, yakni Dr. Abu R. J. Mahmood (Konsultan Internasional Penginderaan Jauh dan Tutupan Lahan), Professor Dato’ Dr. Morshidi Sirat (Universiti Sains Malaysia), dan Professor Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo (Universiti Kebangsaan Malaysia). Pada bagian Plenary Presentation, diisi oleh Prof. Dr. rer.nat. Junun Sartohadi (Universitas Gadjah Mada), Professor Dr.Wan Ruslan Ismail (Universiti Sains Malaysia), Dr. rer.nat Nandi (Universitas Pendidikan Indonesia), dan Associate Prof. Dr. Safiah @ Yusmah Muhammar Yusoff (University of Malaya).

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai Negara, seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Sebanyak 57 makalah dengan topik yang beragam telah dipresentasikan pada sesi pararel ini. Prosiding internasional yang terindeks Scopus merupakan produk akhir yang akan diisi oleh 57 makalah.

Penentuan Status Mutu Air Dengan Sistem STORET Di Kecamatan Bantar Gebang

Sumber gambar: http://pag.geologi.esdm.go.id/

Lembaga yang bernama Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PSDAT dan GL) salah satunya bertugas untuk memantau dan memonitoring kualitas air pada suatu region tertentu. Adanya lembaga tersebut diharapkan bisa membantu masyaratkat untuk memilih air layak konsumsi. Pengambilan percontoh air dilakukan di Kecamatan Bantar Gebang, tempat terdapat Tempat Pembuangan Akhir sampah Bantar Gebang. Air lindi yang dihasilkan dari TPA Bantar Gebang dapat meresap dan mencemari sumur – sumur penduduk di sekitarnya. Kualitas air yang baik akan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah tersebut dengan kadar (konsentrasi) maksimum yang diperbolehkan.

Metode

Metode yang dapat digunakan untuk menentukan baku mutu air berdasarkan wilayah atau satu titik (sumur) adalah metode STORET (Storage and Retrieval). Penentuan status mutu air dengan sistem STORET ini dimaksudkan sebagai acuan dalam melakukan pemantauan kualitas air tanah dengan tujuan untuk mengetahui mutu (kualitas) suatu sitem akuatik. Penentuan status mutu air ini berdasarkan pada analisis parameter fisika, kimia, dan biologi. Hasil analisis kimia percontoh air kemudian dibandingkan dengan baku mutu yang sesuai dengan pemanfaatan air. Kualitas air dinilai berdasarkan ketentuan sistem STORET yang dikeluarkan oleh EPA (Environmental Protection Agency, Canter, 1977) yang mengklasifikasikan mutu air ke dalam 4 kelas.

Kelas :

A = baik sekali       Skor: 0

B = baik                  Skor: -1 s/d -10

C = sedang              Skor: -11 s/d -30

D = buruk               Skor: > = -31

Proses

Prosedur penggunaan metode STORET ini yang pertama, dilakukan dengan pengumpulan data kualitas air dan debit air secara periodik sehingga membentuk data dari waktu ke waktu (time series data). Kedua, membandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku mutu yang sesuai dengan kelas air. Ketiga, jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran < baku mutu) maka diberi skor 0 dan jika hasil pengukuran tidak memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran > baku mutu) maka diberi skor 1. Kemudian, Jumlah negative dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status mutunya dari jumlah skor yang didapat dengan menggunakan sistem nilai.

Hasil

Lokasi pengambilan dan jumlah percontoh ditentukan berdasarkan pada tujuan pemeriksaan air permukaan dan atau air tanah. Kualitas air tanah dipengaruhi oleh tiga komponen, yaitu material (tanah dan batuan) yang mengandung atau yang dilewati air tanah, jenis aliran, dan proses perubahan akibat pencemaran yang sesuai dengan hukum fisika, kimia, dan biologi. Metode analisis kimia, fisika, dan biologi percontoh air mengacu pada Standars Methods (APHA-AWWA-WEF, 1995) dan standar Nasional Indonesia (BAPEDAL, 1994), serta Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/MENKES/PER/IX/1990 untuk syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum.

Hasil analisis fisika-kimia-biologi air terhadap delapan percontoh air sumur gali dan sumur pantek tersebut tidak memenuhi persyaratan minum. Percontoh air terlihat keruh (dua percontoh), mempunyai nilai pH rendah (tujuh percontoh), tingginya kadar besi (satu percontoh), mangan (dua percontoh), Pb (delapan percontoh), nitrit (satu percontoh), nitrat (satu percontoh), dan mengandung bakteri coli tinja (empat percontoh). kemudian dibandingkan dengan nilai persyaratan air minum yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 416 tahun 1990.  maka diperoleh nilai: -64 yang berarti kondisi perairan termasuk kelas D atau buruk. Dan hasil yang diperoleh dari penilaian sistem STORET disimpulkan bahwa mutu air tersebut buruk. (sumber: penelitian kelompok 7, jurusan pendidikan geografi 2013)

Disusun Oleh:

Rifany Musthafanisa (1807369)

Giansyah Ramdani (1808631)

Wildan Maolana Mubarok (1808621)

Aji Wijaksana (1807277)

Terungkap, Desa Sangat Diuntungkan oleh Fieldcamp SPIG 2018

Desa sangat diuntungkan dengan kegiatan fieldcamp Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) UPI yang bertema “Pemetaan Partisipatif Desa”. Hal tersebut diungkap secara langsung oleh Kepala Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Barat dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan fieldcamp SPIG 2018. Bukan tanpa alasan, keuntungan yang dimaksudnya berlandaskan pada Perda No. 27 Tahun 2016 tentang  Rencana Tata Ruang Wilayah yang berbunyi bahwa seluruh Desa yang berada di bawah otoritas Kabupaten Bandung harus memiliki peta Desa. Ibarat gayung bersambut, kedatangan mahasiswa SPIG angkatan 2016 disebut-sebut sangat menguntungkan bagi Desa, bahkan pihaknya sangat mengharapkan kegiatan pemetaan partisipatif desa dilakukan di seluruh desa yang ada di Kecamatan Soreang.

Kegiatan fieldcamp 2018 yang telah resmi dibuka pada hari Rabu 21 Nopember 2018 ini, meliputi wilayah kajian yang terdiri dari tiga Desa di Kecamatan Soreang yaitu Desa Pamekaran, Desa Karamat Mulya, dan Desa Panyirapan. Peserta fieldcamp selama sepuluh hari kedepan, akan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama empat semester dibangku perkuliahan. Secara umum mereka akan menerapkan ilmu pemetaan terestris, penginderaan jauh (fotogrametri), dan sistem informasi Geografis. Sehingga dari kegiatan tersebut akan dihasilkan berbagai macam produk pemetaan antara lain berupa peta administrasi desa, peta penggunaan lahan, peta potensi sumberdaya alam, peta aksesibilitas, peta 3D modeling, dan peta-peta tematik lainnya.

Ketua Prodi SPIG Dr. Iwan Setiawan, M.Si menegaskan dalam sambutannya bahwa pelaksanaan fieldcamp diharapkan dapat bermanfaat bagi proses akademik mahasiswa dan bermanfaat pula bagi inventarisasi informasi desa yang divisualisasikan dalam bentuk peta tematik dan buku cetak. Pernyataan tersebut disambut baik oleh Sekretaris Camat Kecamatan Soreang H. Ahmad Qurtubi, S.Sos., M.Si supaya mahasiswa peserta fieldcamp difasilitasi dan dijaga keamanannya.

Kegiatan Pembukaan Fieldcamp 2018 dihadiri oleh perwakilaan perangkat ketiga desa wilayah kajian, dan juga jajaran dosen Prodi SPIG yang terdiri dari Hendro Murtianto, M.Sc, Arif Ismail, M.Si, Muhammad Ihsan, M.T, Shafira Himaya, M.Sc, Asri Ria Affriani, M.Eng, dan Riki Ridwana, M.Sc.

Rektor UPI Kunjungi Praktikum Departemen Pendidikan Geografi

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. H. Rd. Asep Kadarohman, M.Si kunjungi kegiatan praktikum lapangan Departemen Pendidikan Geografi di Kampus Lapangan Geologi Cisolok, Kecamatan Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Kunjungan yang didampingi oleh Dekan FPIPS Dr. Agus Mulyana, M.Hum, Wakil Dekan I Dr. Mamat Ruhimat, M.Pd dan Ketua Departemen Pendidikan Geografi Dr. Ahmad Yani, M.Si tersebut, disambut oleh jajaran dosen yang membimbing mahasiswa di lapangan antara lain Jupri, M.T, Ir. Yakub Malik, M.Pd, Hendro Murtianto, M.Sc, Arif Ismail, M.Si, Riki Ridwana, M.Sc, dan Riko Arrasyid, M.Pd.

Departemen Pendidikan Geografi yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Geografi, Survei Pemetaan dan Informasi Geografi, dan Sains Informasi Geografi, secara parallel melakukan praktikum lapangan bersama dalam mata kuliah Geologi, Geomorfologi, Mitigasi Bencana, dan Pengantar Survei Pemetaan. Secara spontan Rektor UPI menyapa dan menanyakan kesan dari salah seorang mahasiswa (Ray Putri, SPIG 2018 dan Gusti, Pendidkan Geografi 2016) terkait kegiatan praktikum yang sedang berlangsung.

Setelah itu beliau menyatakan kunjungannya sebagai salah upaya penjaminan mutu pendidikan di era industri 4.0 yang tidak terlepas dari critical thinking, creativity, collaboration, and complex communication. Sehingga berdasarkan kunjungan dan pengamatannya tersebut, beliau semakin yakin bahwa metode pembelajaran praktikum lapangan yang dikemas oleh Departemen Pendidikan Geografi mencakup mutu pendidikan yang berkualitas dan dapat dipertanggunjawabkan.

Dekan FPIPS dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa Departemen Pendidikan Geografi sudah lama berkontribusi dalam mewujudkan kawasan Ciletuh menjadi Geopark Global UNESCO. Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada Rektor UPI yang telah hadir menyimak contoh model pembelajaran yang ada di FPIPS.

Sumber Daya Alam Pesisir Pulau Kecil Terluar Aceh dan Maluku (Pulau Rusa dan Pulau Larat )

A) LEMBAGA

Badan informasi Geospasial (disingkat BIG), adalah lembaga pemerintah nonkementrian Indonesia yang bertugas melaksananakan tugas pemerintahan di bidang informasi geospasial, salah satu contoh penelitian BIG yaitu  sumber daya alam pulau – pulau kecil terluar Aceh dan Maluku (Pulau Rusa dan Pulau larat)

Sumber daya alam pulau-pulau terkecil merupakan salah satu elemen di dalam ekosistem pulau-pulau kecil. Oleh karena itu, penilaian ekologis maupun ekonomis terhadap pulau kecil tidak akan terlepas dari penilaian ekosistem dimana sumber daya alam tersebut berada.

Pulau kecil merupakan salah satu sumber daya pesisir dan laut yang mempunyai berbagai fungsi ekologi dan ekonomi. Fungsi-fungsi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar sebagai sumber kehidupan mereka. Keberadaan sumber daya alam pulau kecil ini perlu dijaga agar tetap memberikan manfaat ekonomi dan ekologis serta dalam pembangunan masyarakat.

Oleh karena itu penting dilakukan pemetaan potensi sumber daya alam pulau kecil terluar dengan lokasi Pulau Rusa, Pulau Raya, Pulau Benggala, dan Pulau Rondo di Aceh serta Pulau Larat, Pulau Astubun, Pulau Selaru, dan Pulau Batarkusu di Maluku. Dan kami mengambil sempel Pulau Rusa di Aceh serta Pulau Larat di Maluku.

 

B) LOKASI PENELITIAN

1)    PULAU RUSA

Secara geografis Pulau ini terletak pada koordinat 9°12’ 27” LU – 95º12’32” BT dan 5º16’22,53” – 5º 16’ 54,83” LU. Pulau Rusa mempunyai luas 0, 296 km² dan titik dasar pada TD.175 dan TR.175 yang terletak di samudra Hindia secara administratif, pulau ini terletak di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh yang berbatasan dengan negara India.

2)    PULAU LARAT

Pulau Larat adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di laut Aru dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Larat ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah timur laut dari Pulau Jamdena dengan koordinat 7º 14’26” LS – 131º 58’49” BT.

 

C) METODE PENELITIAN

1)    Metode inventarisasi dan pemetaan sumber daya alam pesisir dan laut pulau kecil terluar

Metode inventarisasi pulau kecil mengacu pada spesifikasi teknis inventarisasi data untuk penyususnan direktori pulau ( pusat survey sumber daya alam laut, 2008).

  • KEBUTUHAN DATA

Kebutuhan data disesuaikan dengan proses inventarisasi yang berbasis pengindraan jauh dan sistem informasi geografis dan skala peta yang akan disusun

  • PETA KERJA

Peta kerja disiapkan untuk menuangkan tema tema yang diperlukan. peta kerja berfungsi sebagai peta dasar untuk pembuatan peta pemetaan sumber daya alam pesisir dan laut pulau kecil terluar.

  • PETA EKOSISTEM PULAU KECIL

Pembuatan ekosistem pulau kecil menggunakan data citra satelit, sedangkan untuk pemetaan sumber daya alam pesisir dan laut pulau kecil minimal diperlukan dua waktu rekaman.

  • DATA PENUNJANG LAINNYA

Pengumpulan data meliputi data primer maupun data sekunder, baik yang berupa data spasial maupun data statistik. Data primer adalah data yang diperoleh dari pengamatan dan pengukuran langsung di  lapangan seperti titik koordinat, tracking, dan dokumentasi berupa foto. Data sekunder yaitu data penunjang yang dikumpulkan dari instansi pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan materi penelitian, maupun yang berasal dari publikasi dan hasil penelitian yang pernah dilakukan.

2)    Penentuan wilayah kajian

Pertimbangan penentan wilayah kajian didasarkan pada tujuan nya, yaitu berdasarkan batas administrasi yang sudah baku.

3)    Proses Analisa Data Inderaja dan Survei Lapangan

Proses Analisa Data Inderaja dan Survey Lapangan mengacu pada spesifikasi teknis inventarisasi data untuk penyusunan direktori pulau ( Pusat Survey Sumber Daya Alam Laut, 2008 ).

 

D) HASIL PENELITIAN

  1. Pulau Rusa

Pulau Rusa (Sumber foto kompas.com)

a. Topografi

Pulau Rusa memiliki topografi berbukit dengan ketinggian antara 0-32 mdpl.

  1. Indikator Pulau Rusa
  2. Panjang garis pantai : 3,760km
  3. Jarak ke Pulau terdekat : 0,522km
  4. Indeks pesisir : 12,72km
  5. Titik tertinggi : 92,8 mdpl
  6. Resiko kenaikan muka air laut : 26,82%

b. Litologi

Seperti halnya Pulau Raya, Pulau Rusa juga tersusun dari endapan aluvium. Endapan aluvium ini merupakan hasil pengikisan dari erosi dan abrasi dari batu gamping formasi Wapaluka (batuan yang lebih tua).

  1. Luasan tiap ekosisitem di Pulau Rusa
  2. Hutan 23,133 ha
  3. Non hutan 1,257 ha
  4. Lahan terbuka 5,017 ha
  5. Laut dangkal 20,560 ha

c. Klimatologi

Pulau Rusa juga termasuk pulau dengan iklim tropis dengan curah hujan mencapai rata-rata 2235,2mm per tahun sedangkan suhu udara di sekitar Pulau Rusa berkisar 20,5 sampai 29,8 derajat celcius.

d. Kondisi perairan

Kondisi perairan Pulau Rusa juga termasuk agak sedikit keruh dengan ombak yang sedang.

  1. Potensi sumber daya alam Pulau Rusa
  2. Potensi perikanan

Sumber daya ikan yang terdapat di perairan Pulau Rusa adalah teri, kembung, dan layang.

  1. Biota laut yang potensial

Adapun biota laut yang potensial adalah udang lobster, dan tripang

  1. Kondisi terumbu karang

Secara umum, kondisi terumbu karang yang terdapat di perairan Pulau Rusa mempunyai kenampakan yang relatif sama pada beberapa titik sempel dengan lebar berkisar 80 sampai 540m.

  1. Ekosistem mangrove

Ekosistem mangrove yang dapat ditemukan  di Pulau Rusa mempunyai ketinggian antara 0,5 sampai 3m dengan tingkat kerapatan yang rendah.

  1. Kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan infrastruktur Pulau Rusa

a. Sosial Budaya

Pulau Rusa mempunyai tiga desa yang berdekatan yaitu desa Saney, desa Utamong, dan desa Kareun.

b. Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk umum nya adalah sebagai nelayan, dengan bertani dan berternak sebagai pekerjaan sampingan.

c. Infrastruktur dan Penunjang

Infrastruktur dan Penunjang hampir sama dengan pulau-pulau yang lainnya, akan tetapi terbatas nya jumlah persediaan minyak untuk pergi melaut mejadi kendala bagi para nelayan sehingga hasil tangkapan ikan sering kali dijual di lokasi terdekat.

  1. Pulau Larat

Pulau Larat (Sumber Foto Pinterest)

Pulau Larat merupakan salah satu dari 92 pulau Garda terdepan Nusantara. Pulau Lara hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dengan waktu tempuh 4-5 jam dari ibu kota Maluku Tenggara Barat. Komoditas utama di Larat saat ini adalah rumput laut yang menjadi primadona di Pulau yang menyerupai bomerang. Larat mempunyai topografi yang tidak terlalu bergelombang dan nampak datar. Kawasan penting di Pulau ini terletak di bagian tengah pulau, yakni berjarak 17km dari kota Larat. Sebagian besar masyarakat nya bermata pencaharian sebagai petani peladang, nelayan serta beternak sebagai sampingan. Jenis tanaman komoditi utama adalah kelapa, kopi, kapuk, dan jambu mete.

 

E) KESIMPULAN

  1. Dalam rangka menjaga keutuhan wilayah Negara, sera meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan, perlu dilakukan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan memperhatikan keterpaduan pembangunan di bidang sosial, ekonomi, budaya, suku, sumber daya manusia, pertahanan dan keamanan.
  2. Untuk itu dibutuhkan informasi geospasial untuk pendukung pembangunan pulau-pulau kecil terluar.
  3. Penyajian informasi spasial pulau-pulau kecil memberikan gambaran tentang geografi, ekologi dan pengaruh manusia.

Disusun Oleh :

Abang Rifki S,JP        (SPIG, 1800942)

Faisal Febrianto DAF (SPIG, 1801652)

Fazra Nur A                (SPIG, 1808605)

Nabil Nur F                 (SPIG, 1800885)

H-14 Field Camp dan Pengabdian Pada Masyarakat

“Tahun ini field camp yang bertemakan “Pemetaan Tematik Desa” insyaAllah akan dilaksanakan di Kecamatan Soreang tanggal 21 – 29 Nopember 2018. Sampai dengan saat ini mahasiswa sudah melakukan berbagai persiapan baik substansi maupun teknis perijinan. Target sasarannya adalah melengkapi peta-peta tematik desa dan ada juga yang melakukan pemetaan terestris yaitu pemetaan jalan yang diproyeksikan akan dikembangkan lebih lanjut atau meningkatkan kualitasnya,” ungkap Ketua Prodi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) Dr. Iwan Setiawan, M.Si dalam rapat terbatas pengurus Prodi SPIG.

“Sampai dengan saat ini mahasiswa sedang melakukan perijinan ke desa nya masing-masing. Dengan sebelumnya perijinan ke KESBANGPOLLINMAS. Sejumlah pekerjaan yang harus selesai sebelum berangkat adalah pembuatan peta tentatif yang harus diselesaikan di laboratorium,” pungkas beliau.

Menurut Arif Ismail, M.Si “Tema field camp harusnya tidak insidental akan tetapi dirancang untuk jangka panjang dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja prodi sekaligus menunjukkan eksistensi prodi dengan melihat pada national issue, regional issue, community issue, incident, project based, request based, dan research based. Misalnya diarahkan untuk riset berbasis KBK (kelompok bidang keahlian), pendidikan, dan pengabdian pada masyarakat.”

Kegiatan field camp ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu persiapan (penentuan tema dan lokasi, issue/kasus, penguatan materi, pengumpulan data sekunder, suvei pendahuluan, perijinan, akomodasi), pelaksanaan (ekspose 1, survei dan pengukuran, pengolahan data lapangan), dan pelaporan (penyusunan laporan, ekspose 2).

Kelemahan pada mahasiswa yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah dalam menulis laporan. Sementara kegiatan ekspose kedua nanti diharapkan seluruh dosen dapat hadir dengan mengundang instansi terkait misalnya kepala desa, BAPPEDA, BNPB, dan sebagainya untuk memperkenalkan SPIG dan menyerahkan produk yang dihasilkan.
Berbagai data dan informasi tematik yang akan dihasilkan dalam field camp tahun ini antara lain:

  1. Peta Administrasi (Batas Administrasi Desa, Batas Dusun/ Lingkungan Desa)
  2. Peta Penggunaan Lahan (Pemanfaatan Lahan Desa, Identifikasi Potensi Kesesuaian Lahan, Perencanaan Pengembangan Pemukiman Desa)
  3. Peta Jaringan Jalan Desa (Pemberian nama jalan desa, penentuan tipe jalan desa, perencanaan pengembangan desa)
  4. Peta Sarana dan Prasarana Desa (Ploting lokasi sarana dan prasarana, perencanaan lokasi pengembangan, sarana dan prasarana desa, pasar tradisional dan modern)
  5. Peta Sebaran Penduduk (kondisi demografi, dan informasi kependudukan)
  6. Potensi Sumberdaya Alam (Produktivitas sawah, hutan, perkebunan, dan lain sebagainya)

Seperti yang diketahui Bersama field camp tahun ini akan dibagi menjadi tiga desa dengan melihat jumlah mahasiswa yang berjumlah lebih dari 30 orang sehingga dibagi menjadi tiga kelompok. Desa tersebut adalah Desa Panyirapan, Desa Sadu, dan Desa Karamatmulya yang keseluruhannya berada di Kecamatan Soreang.

Kompetensi survei pemetaan terestris turut dikembangkan dengan melakukan pemetaan detail situasi sesuai dengan kebutuhan yang ada di desa misalnya memetakan tanah girik desa, atau bisa juga memetakan irigasi desa yang rusak, dan lain sebagainya. Begitu pula kompetensi fotogrametri dapat dikembangkan dengan pemetaan gedung-gedung desa menggunakan drone (unmanned aerial vehicle).

Produk lainnya yang akan dihasilkan adalah membuat buku yang akan dicetak dan diserahkan kepada desa-desa terkait. Buku tersebut juga dapat menjadi portofolio prodi SPIG yang akan dipromosikan kepada berbagai stakeholder yang dapat memancing lahirnya kerjasama.

Adapun yang terakhir kegiatan field camp ini akan diintergrasikan dengan Pengabdian pada Masyarakat (P2M) yang akan dilaksanakan oleh dosen Prodi SPIG. Selain dosen mengawasi kegiatan field camp, dilakukan juga kegiatan pengabdian pada masyarakat. Singkatnya sekali merengkuh dayung dua tiga pula terlampaui.

Rapat yang digelar Rabu 7 Nopember 2018 di Laboratorium SIG tersebut, dihadiri oleh Prof. Dr. Dede Sugandi, M.Si, Nanin Trianawati, M.T, Muhammad Ihsan, M.T, Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc, Asri Ria Affriani, S.T., M.Eng, Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc, Riko Arrasyid, M.Pd, Anang Abdurrohim, S.T, dan Muhammad Abia Saefulloh, S.Pd.

Dibalik Kegiatan One Day Trip Jantera

Sabtu, 20-10-2018, kegiatan one day trip merupakan agenda tahunan Jantera (Himpunan mahasiswa pecinta alam departemen pendidikan geografi) setiap tahunnya Jantera menawarkan destinasi wisata dan kegiatan yang berbeda pada one day trip. Jika tahun kemarin destinasinya adalah Gua, tahun ini Jantera mengajak kita untuk mendaki Gunung Batu serta merasakan serunya rock climbing dan repling.

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari mahasiswa departemen pendidikan geografi, mahasiswa dari kampus UIN Bandung, serta siswa SMA dan lainnya. Hanya dengan membayar biaya yang terjangkau kita sudah dapat berjalan-jalan dan mendapat ilmu yang bermanfaat dari sejarah Gunung Batu yang menjadi saksi bisu patahan Lembang. Para peserta dikumpulkan pada pagi hari sekitar pukul 06.30 wib, Di depan ITC Al Furqon sudah berkumpul akang teteh Jantera yang akan memandu kegiatan ini. Teh Helga sebagai pemandu kegiatan mengumpulkan para peserta untuk didata ulang dan pembagian angkutan umum sekaligus menjelaskan rundown acara nanti.

Setibanya di tujuan, para peserta mendengarkan arahan terlebih dahulu serta menyuarakan jargon one day trip “Bermain Belajar bersama Jantera”. Dengan bersemangat langkah-langkah para peserta mulai menuju Gunung Batu. Dari beberapa peserta ini merupakan pengalaman pertama kali mendaki gunung sekaligus juga peserta akan mendapat  pengetahuan mengenai tempat yang dipijaknya dari Dosen Pendidikan Geografi. Secara garis besar ada beberapa materi yang disampaikan Pak Hendro Murtianto, M.Sc.

“Bandung merupakan cekungan. Secara geomorfologi, memiliki bentuk lahan struktural karena ada proses tektonisme dari proses patahan. Gunung Batu merupakan bagian patahan Lembang yang merupakan sesar aktif sehingga masih memiliki potensi bergerak (gempa). Dari penelitian LIPI, di Lembang digali model parit yang nanti dilihat lapisan tanahnya untuk mengidentifikasi daerah sedimentasi sehingga dapat dilihat perbedaan umur batuan dan tanahnya. Pada uji karbon dapat diketahui letusan terdahsyat yaitu sekitar 2000 tahun lalu bergerak antara 2-8 cm pertahun maka didirikanlah stasiun pemantau yang didalamnya terdapat seismograf dan GPS geodetic”, papar beliau.

Setelah pematerian dari pak Hendro dilanjutkan pada sesi sharing dengan Pak Setio Galih Marlyono, M.Pd yang mana beliau berpengalaman menjadi aktivis di Jantera. Beliau menyampaikan seputar organisasi dan cara memanage waktu antara akademik dan organisasi sehingga semuanya bisa berada pada indikator yang baik. Sisa waktu berikutnya digunakan untuk melakukan rock climbing dan repling ada juga sharing photography bersama Teh Heni. Serunya kegiatan repling yang dipandu Kang Berna terlihat dari antusiasme para peserta, juga tak kalah seru saat merasakan sensasi rock climbing yang dipandu oleh Kang Islah dan akang-akang alumni yang berpengalaman. Tak lupa juga ada lomba menulis cerita perjalanan, lomba menulis puisi, dan lomba photography untuk para peserta.

Ada sedikit kutipan dari Dr. Lili Somantri, M.Si “Geografi hanya  akan berkembang dengan menjelajah”.

Penulis: Rizka Rahmandita Eka Putri (1805459)

Ketua Prodi SPIG Koordinasikan Program Kerja Terdekat

Sebagai salah satu langkah membangun lembaga, Ketua Program Studi (Prodi) Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) Dr. Iwan Setiawan, M.Si mengkoordinasikan berbagai program kerja terdekat prodi kepada seluruh jajaran pengurusnya. Koordinasi yang digelar selepas berakhirnya rutinitas perkuliahan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 31 Oktober 2018 Pukul 17.00 – 19. 30 WIB. Berdasarkan rapat koordinasi ini diperoleh beberapa catatan penting untuk ditindaklanjuti kedepan, antara lain:

  1. Field Camp Prodi SPIG insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 21 – 30 Nopember 2018 bertempat di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Tema Field Camp tahun ini adalah “Pemetaan Tematik Desa” yang akan diintegrasikan pula dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sehubungan dengan kegiatan field camp yang semakin dekat, maka buku pedoman field camp harus segera dirampungkan.
  2. Rencana Pembelajaran Semester (RPS) akan dirapatkan kemudian dengna seluruh dosen prodi, dengan penyelesaian akhir akan ditangani oleh tim khusus. Langkah ini diproyeksikan untuk mempersiapkan akreditasi Prodi SPIG tahun 2020.
  3. Prodi SPIG bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Prodi SPIG secara fokus akan menyelenggarakan pelatihan terkait pemetaan semisal pemanfatan drone untuk pemetaan, sistem informasi geografis, penginderaan jauh, dan sebagainya. Rencana ini insya Allah akan dilaksanakan setelah Ujian Akhir Semester.
  4. Identifikasi berbagai masalah kemahasiswaan dari sekian mahasiswa disetiap angkatan, misalnya dari segi indeks prestasi kumulatif (IPK), lama studi, dan lain sebagainya. Hasilnya kemudian diinformasikan kepada dosen pembimbing akademiknya (PA) masing-masing. Upaya ini diharapkan untuk menghindari mahasiswa drop out (DO) atau lulus tidak tepat waktu yang akan mempengaruhi terhadap akreditasi prodi tahun 2020 yang ditargetkan memperoleh peringkat “A”. Selain itu juga diagendakan pertemuan khusus dengan dosen PA untuk mengakses mahasiswa bimbingannya apakah ada yang bermasalah untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya.
  5. Mengidentifikasi kelengkapan modul praktikum Prodi SPIG.

Pengurus Prodi SPIG yang hadir pada rapat koordinasi tersebut yaitu Nanin Trianawati, M.T, Arif Ismail, M.Si, Muhammad Ihsan, M.T, Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc, Asri Ria Affriani, S.T., M.Eng, Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc, Anang Abdurrohim, S.T, dan Muhammad Abia Saefulloh, S.Pd.

Eminence Lecture Departemen Pendidikan Geografi

Hari Senin, 15 Oktober 2018 Departemen Pendidikan Geografi FPIPS UPI  melaksanakan Eminence Lecture, yang bertemakan “Mempersiapkan Kompetensi dan Karakter Sarjana (atau Ilmuwan) Indonesia Berkualitas Internasional di Era Revolusi Baru Industri untuk Kemajuan Bangsa”. Kuliah umum tersebut disampaikan oleh Dr. Ing. Suhendra, yang merupakan Senior Process Engineer, Researcher in Bundesanstalt fur Materialforschung und prufung (BAM) di Berlin, Jerman. Bapak Dr. Ing. Suhendra datang langsung dari Jerman untuk menyampaikan materi yang berhubungan dengan Era Revolusi Industri 4.0. yang kita hadapi saat ini.

Kegiatan ini merupakan bentuk  keikutsertaan Departemen Pendidikan Geografi demi menciptakan lulusan yang berkualitas Internasional dalam menghadapi Era Revolusi Industri. Kegiatan ini sendiri dimulai pada pukul 08:00 – 11:00 WIB, bertempat di Balai Pertemuan  Achmad Sanusi UPI. Jalannya acara dipandu oleh dua orang MC mahasiswa Reza dan Anita dari Pendidikan Geografi angkatan 2017. Sambutan disampaikan oleh Ketua Departemen Pendidikan Geografi Dr. Ahmad Yani, M.Si,  dan sambutan sekaligus membuka acara oleh Dekan FPIPS UPI Dr. Agus Mulyana M. Hum. Acara ini dihadiri juga oleh para Guru Besar Departemen Pendidikan Geografi, jajaran dosen Departemen Pendidikan Geografi dan seluruh mahasiswa Departemen Pendidikan Geografi yang terdiri dari Prodi Pendidikan Geografi, Survei Pemetaan dan Informasi Geografi, dan Sains Informasi Geografi.

Dalam pemaparannya, Bapak Suhendra menjelaskan tentang Pertumbuhan Ekonomi dan Teknologi saat ini yang berkembang dengan pesat, selain itu beliau juga menceritakan banyak hal tentang Jerman mulai dari kehidupan disana, cara-cara agar bisa berkuliah di Jerman, tipe-tipe Universitas di Jerman,  dan tips jika kita ingin menuntut ilmu di luar negeri, kita harus memiliki agama yang kuat, kesiapan yang matang, siap dengan segala perbedaan yang ada. Bapak Suhendra juga menjelaskan tentang Produk utama industri Jerman, dan Industri-industri di Jerman, serta bagaimana Jerman bisa menjadi negara maju. “Indonesia sendiri harus bisa memproduksi barang-barang sendiri, Indonesia harus mandiri tidak tergantung dengan negara lain, karena indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya manusia yang melimpah”, tegasnya.

Pemaparan yang disampaikan oleh Bapak Dr. Ing. Suhendra merujuk pada Era Revolusi Industri 4.0. yang terjadi saat ini. “Bagaimana Indonesia bisa maju seperti negara Jerman, serta mahasiswa UPI harus menjadi mahasiswa yang kompeten, berkualitas internasional, dan mampu bersaing di Era Revolusi Industri. Peran IPTEK menyumbangkan pembangunan yang signifikan, Indonesia harus bisa menjadi Pusat IPTEK Asia Pasifik dan Dunia, khususnya dalam kemaritiman, biodiversitas, material, dan kebencanaan. Model baru penguasaan Industri, saat ini dikuasi oleh China dan Amerika. Era Industri 4.0. menyajikan ekosistem digital yang dimulai saat munculnya konektivitas, sosial media, dan e-commerce. Kemudian internet of things, oleh sebab itu di Era ini kta harus memiliki Speed, Simplicity, Innovation, dan Break trend, karena banyak pekerjaan yang akan tergantikan oleh otomatisasi. Oleh sebab itu kita harus memiliki High-skilled untuk berkompeten di masa depan”, tutur beliau yang satunya-satunya bekerja sebagai peneliti asing  di “LIPI” nya Jerman tersebut.

Acara Eminence Lecture ini berlangsung dengan tertib, para mahasiswa dari berbagai angkatan menyimak pemaparan dari Bapak Dr. Ing. Suhendra dengan khidmat, buktinya saat sesi tanya-jawab para mahasiswa sangat antusias untuk bertanya dan menggali ilmu lebih dalam dari Bapak Suhendra. Setelah sesi penyampaian materi dan sesi tanya-jawab yang dimoderatori oleh Bapak Dr. rer. nat Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc selesai, diakhir acara Bapak Suhendra memberikan tiga pertanyaan, dan bagi yang mampu menjawab mendapatkan oleh-oleh dari Jerman, yaitu tiga buah Coklat bagi tiga orang. Eminence Lecture yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Geografi ini memberikan banyak ilmu dan wawasan serta semakin membuka cakrawala mahasiswa dalam menyongsong Era Industri 4.0.

Penulis: Muhammad Arrafi (1805559)

Alumni Prodi SPIG Mengikuti Uji Kompetensi Profesi Geospasial

Alumni Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi (SPIG) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia, telah mengikuti Ujian Sertifikasi Kompetensi yang diadakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Geospasial. Ujian ini berlangsung di IDEAS Hotel Jl. Ibrahim Aji Kota Bandung pada hari Kamis, 11 Oktober 2018. Berdasarkan Peratuaran Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2006, tiga pilar utama peningkatan kualitas tenaga kerja salah satunya adalah sertifikasi kompetensi oleh lembaga yang independen. Selain itu urgensi sertifikasi profesi didukung pula oleh amanat Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Secara umum pelaksanaan ujian ini dimaksudkan untuk membekali para tenaga kerja geospasial sertifikat keahlian, yaitu dalam bidang Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Terestris. Acara ini dibuka oleh salah satu Asesor Sistem Informasi Geografis, Dr. Sodikin, S.Pd., M.Si dengan pemaparan keuntungan dan pentingnya sertifikat kompetensi pada dunia kerja.

Kegiatan Uji Kompetensi ini terdiri dari 4 bagian, yaitu Pengisian Asesmen Mandiri, Ujian Tertulis, Ujian Praktek, dan Ujian Lisan. Untuk mendapatkan sertifikat kompetensi para peserta harus bisa melalui keempat tahap tersebut secara sempurna, artinya jika ada salah satu kompetensi yang tidak dikuasai maka peserta dianggap belum kompeten dan tidak lulus. Hal ini menunjukkan komitmen dari LSP Geospasial untuk memberikan sertifikat hanya kepada orang – orang yang berkompeten dalam bidang SIG maupun terestris.

Berikut ini alumni Prodi SPIG yang telah mengikuti ujian kompetensi;

Annisa Fitri Prasetyani, A.Md

Annisa Mediana, A.Md

Delia Nur Alifah, A.Md

Fajar Rachman Hidayah, A.Md

Fitria Mega Shelvia Putri, A.Md

Rizki Saeful Hidayat, A.Md

Sthefanni Fahira Yusman, A.Md

Windy Dinda Kamilasari, A.Md

Alby Alvyan Nahwi, A.Md

Fathurrafidin, A,Md

Mochamad Fathur Rahman, A.Md

Muhammad Bimo Yanuar, A.Md

Dari 12 orang tersebut, 8 orang mengikuti ujian level operator Sistem Informasi Geografis dan 4 orang mengikuti ujian level operator Survei Terestris. Berbekal sertifikat profesi ini, nantinya lulusan Prodi SPIG akan memperoleh banyak manfaat dan keuntungan antara lain meningkatkan mobilitas dan daya-saing di dunia kerja, meningkatkan pengakuan atas kompetensinya, meningkatkan prospek karier, meningkatkan keselamatan pribadi, meningkatkan rasa percaya diri dan kebanggaan.