Praktikum Lapangan Ilmu Tanah Angkatan 2018

Penulis: Muhammad Fauzan Firdaus (SPIG 1801742)

Pada tangal 3-4 Mei 2019, Mahasiswa/i Survey Pemetaan dan Informasi Geografis angkatan 2018 melakukan praktikum lapangan mata kuliah Ilmu Tanah yang diampu oleh Prof. Dr. Ir. Dede Rohmat, MT dan Arif Ismail, S.Si., M.Si. Praktikum lapangan Ilmu Tanah ini dilaksanakan di Sumedang, Jawa Barat.

Pada hari pertama tanggal 3 Mei 2019, mahasiswa/i SPIG angkatan 2018 melakukan pengamatan profil tanah dengan panjangxlebarnya 1×2 m dan kedalaman 1,5 m. Di dalam suatu profil tanah yang akan diidentifikasi atau yang dikenal dengan pedon tanah ini mempunyai beberapa horizon atau lapisan yang terdiri dari Horizon O, Horizon A, Horizon B, Horizon C, dan Horizon R (batuan induk).

Dari penelitian horizon tanah, dapat diidentifikasi bahwa Horizon O merupakan lapisan tanah yang mengandung bahan organik dan mengandung humus. Horizon A merupakan horrizon yang mengandung campuran bahan organik hasil pelapukan dan mineral. Horizon B merupakan zona pencucian yaitu tempat terjadinya penimbunan atau pengendapan. Horizon C merupakan lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih berupa batuan keras. Horizon R merupakan lapisan terdalam yang masih bebrbentuk batuan induk yag keras.

Pada hari selanjutnya yaitu tanggal 4 Mei 2019, mahasiswa/i SPIG angkatan 2018 melakukan survey tanah di berbagai wilayah di Sumedang yang telah dibagi wilayah kerja tiap kelompoknya. Survey tanah ini dilakukan dengan mengamati dan mengidentifikasi horizon tanah yang digali menggunakan bor tanah. Dari lima titik yang diidentifikasi tiap kelompoknya menunjukan hasil yang berbeda tetapi ada beberapa titik yang sama dengan titik yang lainnya. Dari hasil identifikasi tiap titik di berbagai wilayah di Sumedang, dapat dibuat peta keadaan tanah di wilayah ini dengan menggabungkan hasil identifikasi titik dari semua kelompok.

Diharapkan dari pelaksanaan praktikum lapangan mata kuliah Ilmu Tanah ini Mahasiswa/i SPIG angkatan 2018 dapat memahami dan menguasai cara mengidentifikasi pedon tanah di suatu wilayah dengan benar dan sesuai dengan kaidahnya.

Praktikum Lapangan Mitigasi Bencana dan Hidrologi dan Hidraulika

Penulis : Yaumi Khoirunnisa Binangkit (SPIG,1705074)

Pada tanggal 12 April 2019, Mahasiswa/i Survey Pemetaan dan Informasi Geografis (SPIG) Angkatan 2017 melaksanakan praktikum lapangan ke Cidadap, Kabupaten Tasikmalaya. Praktikum lapangan terdiri dari mata kuliah Mitigasi Bencana dan Hidrologi dan Hidraulika yang berlangsung selama tiga hari. Berangkat dari kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada hari kamis, 11 April 2019 pukul 23.00 WIB di ATM Center dan tiba di lokasi pukul 08.30 WIB dilanjutkan dengan sarapan, dan MCK (mandi, cuci, dan kakus).


Hari pertama tiba di lokasi, praktikum lapangan Mitigasi Bencana dilangsungkan terlebih dahulu. Bahan berupa beberapa jenis peta yang telah disiapkan dari sebelum berangkat dianalisis kembali sebelum terjun ke lokasi (ground check). Praktikum Mitigasi Bencana berupa membuat/memerhatikan kembali jalur evakuasi yang telah ada sesuai dengan analsis peta bahaya bencana tsunami. Setelah dilakukan analisis, ground check dilakukan setelah istirahat dzuhur. Ground check telah selesai dilakukan, malamnya dilakukan evaluasi dan cara membuat peta bahaya bencana menggunakan sistem informasi geografis.


Hari selanjutnya praktikum lapangan Hidrologi dan Hidraulika dilaksanakan. Praktikum lapangan Hidrologi terdiri dari beberapa jenis praktik, yaitu pengukuran debit sungai, evapotranspirasi, intersepsi air hujan, tampungan air hujan (storage), infiltrasi, pengukuran air tanah, dan pasang-surut air laut. Pengukuran pasang-surut dilakukan selama 2 malam 2 hari dan harus selalu dipantau tiap 30 menit. Pengukuran debit sungai dilakukan di anak sungai dari sungai besar dan dilakukan secara menyebar maka tiap kelompoknya memiliki sungainya masing-masing. Pengukuran evapotranspirasi, dan intersepsi air hujan dilakukan di sekitar lokasi penginapan. pengukuran tampungan air tanah dilakukan pada bekas tambang pasir besi. Pengukuran air tanah dan infiltrasi dilakukan pada area yang telah ditentukan, cara pengukuran air tanah yaitu mengukur sumur yang dimiliki oleh penduduk sekitar. Praktik yang dilakukan pada hari terakhir yaitu pengukuran air tanah dan infiltrasi, setelah kegiatan selesai dilaksanakan kemudian persiapan pulang menuju Kota Bandung dan berangkat dari Cidadap pada pukul 14.30 WIB dan tiba di UPI pada pukul 22.00 WIB.

Dari seluruh kegiatan, semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Berdasarkan praktikum lapangan dari kedua mata kuliah tersebut, praktikum lapangan dilakukan harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan dan kedisiplinan dari peserta praktikum sangat dibutuhkan agar kegiatan dapat berlangsung dengan baik.

Pemancangan Titik BM Baru

Penulis : Luthfi Maulana N P (SPIG, 1808437)

Minggu, 21 April 2019 mahasiswa SPIG Angkatan 2018 melakukan pemancangan titik BM (benchmark) baru di sejumlah tempat di lingkungan kampus UPI yang dimana lokasi dari titik BM tersebut sudah di tentukan sebelumnya dan akan dipergunakan antara lain untuk mata kuliah Kerangka Dasar Horizontal (KDH) dan Kerangka Dasar Vertikal (KDV). BM atau titik ikat adalah titik yang telah mempunyai koordinat fixed, dan direpresentasikan dalam bentuk monumen/patok di lapangan, BM sering juga disebut Bench Mark titik kontrol geodesi yang merupakan titik acuan yang dipakai dalam melakukan pengukuran (survei) topografi. BM yang dipancangkan berjumlah 26 titik namun yang di pancangkan oleh Prodi SPIG berjumlah 15 dan sisanya di pancangkan oleh Prodi SaIG.

Pemasangan titik BM baru ini selain bertujuan untuk mempermudah praktikum pada Mata Kuliah KDH dan KDV juga akan digunakan pada Mata Kuliah Pemetaan Detail Situasi, pemasangan BM ini dilakukan karena diangkatan sebelumnya saat pelaksanaan praktikum Mata Kuliah KDH dan KDV titik yang digunakan masih menggunakan kayu yang ditancapkan ke tanah atau menggunakan pylox, sehingga di khawatirkan pada saat akan praktikum Mata Kuliah Pemetaan Detail Situasi titik tersebut hilang.

Dengan dipasangnya titik BM baru ini selain untuk mempermudah praktikum pada Mata Kuliah terkait juga sebagai aset Prodi SPIG yang kedepannya akan digunakan oleh angkatan selanjutnya.

Praktikum Lapangan Oseanografi Angkatan 2018 di P3GL

Penulis: Safira Aulia Putri (SPIG 1808606)

Pada hari Senin, 8 April 2019 Mahasiswa Program Studi Survey Pemetaan dan Informasi Geografis angkatan 2018 telah melaksanakan praktikum lapangan Mata Kuliah Oseanogafi yang dilakukan bersama Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi dan Sains Informasi Geografi angkatan 2018 dengan dosen pembimbing Dr. Ahmad Yani, M.Si, Arif Ismail, M. Si, Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc, dan Riko Arrasyid, M.Pd. Praktikum lapangan Oseanografi ini dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) yang berada di kota Cirebon. Pada P3GL ini, kami diberi pengarahan dan pengenalan alat survey laut.

Kegiatan dimulai dengan pemaparan materi tentang P3GL oleh Bapak Beben selaku kepala sub bidang sarana. Di sini diberitahukan cara kerja P3GL yang dulunya di bawah pemerintah menjadi Badan Layanan Umum (BLU).  Tak hanya itu, kami juga diberikan pemahaman terhadap peralatan survei yang dipakai didalam laut.

Kami juga mengunjungi kapal laut milik Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral yaitu Kapal Geomarin III. Kapal ini biasa digunakan untuk keperluan survei di laut baik pengambilan sampel tanah atau sedimentasi dasar laut. Kami diberikan kesempatan untuk melihat ruangan- ruangan yang ada di dalam Kapal Geomarin III, diantaranya yang sudah kami kunjungi yaitu ada kamar tidur para peneliti yang bekerja di Kapal Geomarin III , dapur umum, ruang kerja, lab geofisika, anjungan, dan masih banyak yang lainnya. Kapal ini dapat menampung sekitar 50 orang yang terdiri dari peneliti, teknisi,  dan awak kapal.  Di sana juga ada para pekerja dibidangnya masing-masing yang memberi informasi bagaimana cara kerja mereka dan juga alat-alat yang dibutuhkan kepada para mahasiswa.

Diharapkan dengan adanya praktikum lapangan ini mahasiswa dapat memahami bagaimana cara survei di laut dan berminat untuk kerja di laut.

Praktikum Lapangan Geomorfologi Mahasiswa Prodi SPIG Angkatan 2018

Penulis: Muhammad Fauzan Firdaus (SPIG 1801742)

Minggu, 7 April 2019 mahasiswa Program Studi Survey Pemetaan dan Informasi Geografis tahun 2018 telah melaksanakan praktikum lapangan Mata Kuliah Geomorfologi yang dilakukan bersama Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi tahun 2018. Praktikum lapangan Geomorfologi ini dilakukan di empat tempat yang berbeda di sepanjang jalan menuju Kota Cirebon, yaitu: 1. Patahan Lembang, 2. Jalan Cagak Ciater, 3. Indramayu, 4. Majalengka.

Dalam pemberhentian pertama, kami berhenti di Patahan Lembang. Di Patahan Lembang merupakan akibat dari proses aktivitas vulkanik yang membentang dari arah barat cisarua sampai manglayang ke arah timur. Sesar tersebut diakibatkan dari letusan Gunung Sunda. Di sepanjang sesar bagian utara, potensi air tanah melimpah juga tanah yang subur. Sedangkan pada bagian selatan sesar, potensi air sulit didapatkan sehingga warga setempat yang berada di sekitar daerah tersebut menempati di bagian utara sesar.

Pemberhentian kedua berhenti di Jalan Cagak Ciater, di lahan ini satuan geomorfologinya vulkanik seperti di patahan lembang karena masih bagian dari Gunung Tangkuban Parahu yang berlokasi diantara lereng tengah dan lereng bawah Tangkuban Parahu. Keadaan morfologi di tempat ini sebagian besar digunakan sebagai lahan perkebunan teh karena mempunyai kemiringan bentuk U dan memiliki tanah yang subur.

Di tempat ketiga, kami berhenti dan mengamati disekitar rest area daerah Indramayu. Di daerah ini terjadi perubahan zona yang asalanya Zona Bogor yang berkelok-kelok (Sinklin) ke zona Jakarta yang merupakan dataran aluvial (Antiklin). Batuan yang ada di daerah ini adalah sedimen tersier yang terdiri dari clay, batu lempung, dll.

Di tempat terakhir kami berhenti di daerah persawahan di jalan yang menuju Majalengka. Di daerah ini sudah masuk ke daerah antiklin yaitu daerah lembah yang datar sehingga mudah terjadi erosi karena sedimen lebih lembut yang memudahkan perubahan bentuk pada tanah.

Dengan diadakannya praktikum lapangan Geomorfologi ini diharapkan mahasiswa mampu meimplementasikan apa yang dipelajarinya di kelas dan dapat menganalisis satuan geomorfologi yang ada di sekitarnya.

 

Pelantikan Pengurus HMP SPIG Periode 2019/2020

Penulis : Luthfi Maulana N P (SPIG, 1808437)

Sabtu, 6 April 2019 Himpunan Mahasiswa Prodi Survey Pemetaan dan Informasi Geografis (HMP SPIG) telah melaksanakan kegiatan pelantikan pengurus periode 2019/2020. Kegiatan pelantikan HMP SPIG yang bertemakan “Mengembangkan jiwa integritas yang tinggi, kekeluargaan, dan solidaritas yang berlandaskan ketaqwaan” ini, dimulai dari Pukul 13.00 – 16.00 WIB.

Acara dibuka dengan melanjutkan sidang pleno 4 dan dilanjut dengan acara pelantikan yang dihadiri oleh bapak Dr. Iwan Setiawan, M.Si., bapak Muhammad Ihsan S.T., M.T., dan ibu Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc. Walaupun mulainya acara sedikit terlambat namun acara berlangsung lancar dan tidak ada kendala.

Semoga dengan dilantiknya pengurus HMP SPIG periode 2019/2020 ini dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dan juga menjaga nama baik Himpunan dan Prodi, sehingga HMP SPIG dapat lebih baik lagi kedepannya juga memunculkan inovasi-inovasi terbaru.

Urgensi Media Publikasi Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografi

Penulis: Luthfi Maulana Nidiputra Pratama  (SPIG, 1808437), Muhammad Fauzan Firdaus (SPIG, 1801742), Safira Aulia Putri (SPIG, 1808606)

Seiring dengan berkembangnya zaman, informasi saat ini tentu lebih mudah diperoleh dari berbagai sumber, bukan hanya media cetak saja melainkan dunia maya pun bisa. Bahkan di dunia ini orang-orang lebih sering melakukan pencarian melalui internet. Dengan memanfaatkan internet mereka bisa mengetahui jawaban dari apa yang mereka cari dengan mudah dan cepat. Maka kondisi demikian sudah seyogianya kita manfaatkan dengan maksimal, melalui internet kita sosialisasikan  Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografis (SPIG) seperti pada website dan sosial media (instagram, twitter, dan facebook).

Apa sih urgensi media publikasi bagi SPIG? Publikasi sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman terhadap publik mengenai Prodi SPIG agar calon mahasiswa baru mengetahui keunggulan dan mengetahui jalur masuk ke program studi ini. Publikasi Prodi SPIG UPI Bandung sudah sering kali dilakukan oleh dosen maupun dari mahasiswanya sendiri melalui beberapa media publikasi yang ada.

Lebih daripada itu, publikasi Prodi SPIG perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat luas mengenai informasi Prodi SPIG, sebagai jembatan antara akademisi dengan masyarakat umum, dan membuka peluang kepada lulusan agar semakin mudah dikenal dan diserap dunia kerja.

Publikasi dilakukan dengan menggunakan media elektronik, diantaranya melalui website yang secara rutin menyebarluaskan setiap informasi dan pengetahuan, melakukan promosi di Instagram UPI Generation yang mempunyai followers lebih dari dua belas ribu, serta melalui Instagram dan FB Prodi SPIG. Publikasi juga dilakukan dengan cara memberikan presentasi mengenai Program Studi SPIG terhadap siswa dan siswi di sekolah-sekolah yang berada di sekitar Jawa Barat dan juga publikasi dilakukan dengan menempelkan leaflet di mading beberapa sekolah.

Tak hanya itu diharapkan dari publikasi yang telah dilakukan ini calon mahasiswa Prodi SPIG tahun 2019 akan mengalami peningkatan dari segi kuantitas dan kualitas, sehingga dapat memenuhi kebutuhan sdm profesional di bidang informasi geospasial di era Revolusi Industry 4.0.

Menyeimbangkan Kegiatan Akademik dan Organisasi Mahasiswa

Penulis: Riki Ridwana

Mahasiswa merupakan status formal tertinggi bagi penuntut ilmu. Tingginya status tersebut dilengkapi dengan amanah besar yang melekat erat padanya, seperti dua sisi keping mata uang yang tak dapat dipisahkan. Terlepas dari hal tersebut mahasiswa adalah komunitas langka dari banyaknya stratifikasi sosial yang ada di tengah masyarakat, hanya 30% dari jumlah penduduk Indonesia yang dapat menikmati bangku perguruan tinggi. Dengan status yang terpandang dan hanya segelintir orang saja yang dapat mengecapnya, maka tidak berlebihan jika mahasiswa hendaklah bersyukur atas nikmat kesempatan yang telah Allah ta’ala berikan kepadanya.

Aktualisasi syukur seorang mahasiswa salah satunya dengan menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi. Mafhum mukhalafah nya mahasiswa yang tidak mampu menyeimbangkan antara akademik dan organisasi adalah mahasiswa abal-abal yang lupa akan jati dirinya sendiri, atau dengan kata lain mahasiswa yang hanya statusnya saja tinggi namun tidak bertanggung jawab terhadap peran dan fungsi yang melekat pada statusnya tersebut, terlebih lagi tipe mahasiswa yang lalai dalam akademik maupun antipati terhadap organisasi. Peran dan fungsi mahasiswa yang dimakasud adalah:

  • Sebagai Iron Stock, mahasiswa harus bisa menjadi pengganti orang-orang yang memimpin di masa yang akan datang, itu artinya mahasiswa akan menjadi generasi penerus untuk memimpin bangsa ini.
  • Agent Of Change, dituntut untuk menjadi agen perubahan. Disini maksudnya, jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu ternyata salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan ekspektasi yang sesungguhnya.
  • Social Control, harus mampu mengontrol sosial yang ada di lingkungan sekitar (lingkungan masyarakat). Selain pintar di bidang akademis, mahasiswa harus pintar juga dalam bersosialisasi dengan lingkungan.
  • Moral Force, diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan sekitarnya terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah mahasiswa yang hanya fokus dalam akademik mampu untuk menjalankan peran dan fungsi yang melekat pada statusnya tersebut? Tentu saja tidak karena perkuliahan di dalam kelas beserta praktikumnya terlalu singkat untuk mengembangkan aspek yang bersifat softskill. Jika setiap mahasiswa benar-benar paham maka dengan sendirinya akan disadari bahwa akademik dan organisasi bukanlah sebuah dikotomi bagi seorang mahasiswa. Mahasiswa sudah seyogianya mampu untuk menyeimbangkan akademik dan organisasi. Sehingga tidak ada lagi yang beranggapan bahwa setiap mahasiswa berhak untuk memilih menjadi mahasiswa akademis atau organisatoris, tidak ada lagi mahasiswa yang IPK nya tinggi namun dia tidak aktif di organisasi, begitu pula sebaliknya tidak ada lagi seorang aktivis namun IPK nya nasakom (nasib satu koma). Jika mahasiswa mengenal jati diri yang sesungguhnya, yang ada hanyalah mahasiswa yang organisatoris dengan IPK cumlaude.

Tantangan kehidupan setelah kuliah jangan sekali-kali dibayangkan akan jauh lebih mudah. Jika demikian maka etos untuk menjadikan kampus sebagai kawah candradimuka akan sirna. Tantangan kedepan apalagi di era revolusi industri 4.0 mengharuskan lulusan memiliki kompetensi khusus sesuai dengan bidang yang ditekuni. Kompetensi tersebut jelas hanya akan diperoleh melalui proses akademik yang terstruktur dan terukur. Sederhananya sebuah perusahaan atau lembaga pemerintah (sebagai lapangan kerja) tidak akan begitu saja menerima lulusan perguruan tinggi tanpa melihat terlebih dahulu apa kompetensinya, hal tersebut dibuktikan dengan ijazah dan rekapitulasi nilai selama menempuh studi.

Akan tetapi persaingan di masa yang akan datang juga mengharuskan lulusan perguruan tinggi memiliki nilai plus disamping standar kompetensi, jika tidak demikian maka akan dengan sangat mudah tersisih oleh ketatnya kompetisi. Hal ini terbukti semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran dan tidak mampu mengembangkan kreativitas individunya. Berdasarkan data BPS sampai dengan Februari 2018 pengangguran lulusan universitas naik menjadi 6,31%. Nilai plus yang dimaksud untuk dapat berkompetisi di dunia kerja akan diperoleh melalui keaktifan dalam organisasi seperti kecakapan berdialektika, wawasan luas, cepat beradaptasi, mudah bergaul, bekerjasama, inisatif, integritas, leadership, dan networking, yang akhirnya memudahkan untuk memperoleh pekerjaan bahkan membuka lapangan pekerjaan baru.

Terakhir marilah berkontemplasi sejenak. Setiap individu mahasiswa pasti memiliki sosok yang menjadi motivator di balik layar perjuangan menempuh studi di perguruan tinggi. Ya sosok itu adalah kedua orang tua, yang telah banyak berkorban untuk mengantarkannya sampai sejauh ini. Melihat pengorbanan mereka, kerja keras, dan dorongan doa mereka apakah tidak terbetik dalam sanubari untuk memberikan yang terbaik kepada mereka? Maka malulah ketika kuliah hanya mengejar IPK hingga menghalalkan segala cara, ingatlah amanah mereka tatkala hanya sibuk dengan urusan organisasi lantas melalaikan tugas utama menyelesaikan studi tepat waktu dan berprestasi. Jika dibandingkan dengan apa yang telah orang tua berikan, tidaklah sebanding tenaga yang kalian kerahkan, waktu yang dihabiskan, lelah yang seakan tidak berujung untuk menjadi mahasiswa akademis dan organisatoris. Jadilah mahasiswa sejati yang jujur terhadap proses, menjunjung tinggi adab dalam menuntut ilmu, dan tidak menyia-nyiakan waktu sesingkat apapun itu. Semoga setelah lulus nanti dapat menikmati manisnya kesuksesan dalam berkarir dan menjadi kebanggaan orang tua yang kalian sayangi.

Pengaruh Kerentanan Tanah terhadap Sumberdaya Lahan

Sumberdaya lahan sangatlah penting bagi manusia, dikarenakan segala kebutuhan manusia ada disitu, sehingga sangatlah penting untuk dilakukan peninjauan mengenai aspek sumber daya lahan salah satunya ialah ancaman dan kerentanan tanah yang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sumber daya lahan.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2011, Bandung menduduki peringkat keempat tingkat rawan bencana diantara 494 kabupaten yang ada di Indonesia. Sedangkan di tingkat Provinsi Jawa Barat menempati ranking ketiga setelah Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Tingginya tingkat kerentanan bencana diukur dari berbagai faktor diantaranya jumlah kasus yang terjadi hingga potensi wilayahnya. Kondisi Geografi Bandung yang berupa dataran tinggi berbentuk cekung serta banyaknya kawasan hutan yang dijadikan sebagai pertanian menyebabkan tingginya sedimentasi dan bencana banjir selain itu, Bandung juga berisiko mengalami bencana letusan gunung berapi di bagian selatan dan timur Bandung. Namun zona bahaya gunung berapi ini masih berada pada zona I dan zona II, dimana bukan merupakan zona dengan tingkat kerentanan paling tinggi.

Bencana lainnya yang berpotensi terjadi di Kabupaten Bandung adalah risiko gerakan tanah mengingat topografi dan kontur wilayahnya yang berbukit-bukit dengan beda ketinggian dataran memiliki rentang yang cukup lebar. Kawasan rawan gerakan tanah tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Bandung, dimulai dari bagian utara dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sangat rendah, menuju bagian tengah dan selatan Kabupaten Bandung yang memiliki tingkat kerentanan rendah dan menengah, serta beberapa kawasan di bagian selatan yang memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi.

Daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi hanya terdapat di sebagian kecil daerah di Kecamatan Rancabali dan Kecamatan Pasirjambu. Sementara sebagian besar daerah lainnya memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah menengah hingga sangat rendah. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain: Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal ( > 2,5m), lunak dan jenuh air sehingga mudah luruh dan tidak stabil (mudah longsor), adanya lahan sawah pada lereng bagian atas dan tengah sehingga menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan gembur. Adanya bidang lemah antara tanah pelapukan dan batuan keras (breksi tufa) yang bersifat lebih kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah, Kemiringan lereng yang curam pada lereng bagian bawah, menyebabkan lereng retak-retak tidak stabil dan mudah bergerak, Hujan deras yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah sehingga tanah mudah bergerak.

Dengan menggunakan Metode penelitian berupa, Metode Geolistrik dan MetodeSondir serta menggunakan pengambilan data berupa, pengamatan dengan teknik penginderaan jauh pengujian di lapangan, penafsiran citra satelit, penafsiran peta topografi skala 1:25.000, mempelajari peta geologi lembar bandung skala 1 : 100.000, mempelajari peta zona kerentanan gerakan tanah lembar bandung skala 1 : 100.000, pendekatan geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi di wilayah gunung api. Dapatlah kita petakan kerentanan tanah diwilayah Kawasan Kabupaten Bandung agar mengetahui lokasi mana saja yang dapat mempengaruhi sumber daya lahan, sehingga  terwujud lah sebuah peta zona kerentanan gerakan tunah lembar Bandung, yang disusun berdasarkan prosedur kerja direktorat geologi tata lingkungan tentang gerakan tanah. Setelah itu dapatlah dilihat wilayah mana saja yang dapat dimanfaatkan dan tidak dimanfaatkan.

Berdasarkan data guna lahan, kawasan budidaya pertanian mendominasi lahan di Kabupaten Bandung dengan persentase luas diatas 50%. Lahan budidaya pertanian yang luas ini menjadi potensi yang luar biasa bagi Kabupaten Bandung dalam hal pengelolaan pertanian. Selain dipengaruhi oleh penggunaan lahan, potensi pertanian juga dipengaruhi oleh topografi dari wilayah itu sendiri. Kabupaten Bandung memiliki topografi yang bervariasi yang menyebabkan komoditas unggulan pertanian dari masing – masing wilayah juga bervariasi dan memiliki kekhasannya sendiri. (http://www.bandungkab.go.id/arsip/aspek-geografi)

Disusun oleh:
Ahmad Prayoga (1807714)
Eka Wahyu Ningsih (1807126)
Fakhry Zulfiqhar (1808299)
Izza Muzakhi Reksa R (1808620)

Penentuan Status Mutu Air Dengan Sistem STORET Di Kecamatan Bantar Gebang

Sumber gambar: http://pag.geologi.esdm.go.id/

Lembaga yang bernama Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PSDAT dan GL) salah satunya bertugas untuk memantau dan memonitoring kualitas air pada suatu region tertentu. Adanya lembaga tersebut diharapkan bisa membantu masyaratkat untuk memilih air layak konsumsi. Pengambilan percontoh air dilakukan di Kecamatan Bantar Gebang, tempat terdapat Tempat Pembuangan Akhir sampah Bantar Gebang. Air lindi yang dihasilkan dari TPA Bantar Gebang dapat meresap dan mencemari sumur – sumur penduduk di sekitarnya. Kualitas air yang baik akan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah tersebut dengan kadar (konsentrasi) maksimum yang diperbolehkan.

Metode

Metode yang dapat digunakan untuk menentukan baku mutu air berdasarkan wilayah atau satu titik (sumur) adalah metode STORET (Storage and Retrieval). Penentuan status mutu air dengan sistem STORET ini dimaksudkan sebagai acuan dalam melakukan pemantauan kualitas air tanah dengan tujuan untuk mengetahui mutu (kualitas) suatu sitem akuatik. Penentuan status mutu air ini berdasarkan pada analisis parameter fisika, kimia, dan biologi. Hasil analisis kimia percontoh air kemudian dibandingkan dengan baku mutu yang sesuai dengan pemanfaatan air. Kualitas air dinilai berdasarkan ketentuan sistem STORET yang dikeluarkan oleh EPA (Environmental Protection Agency, Canter, 1977) yang mengklasifikasikan mutu air ke dalam 4 kelas.

Kelas :

A = baik sekali       Skor: 0

B = baik                  Skor: -1 s/d -10

C = sedang              Skor: -11 s/d -30

D = buruk               Skor: > = -31

Proses

Prosedur penggunaan metode STORET ini yang pertama, dilakukan dengan pengumpulan data kualitas air dan debit air secara periodik sehingga membentuk data dari waktu ke waktu (time series data). Kedua, membandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku mutu yang sesuai dengan kelas air. Ketiga, jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran < baku mutu) maka diberi skor 0 dan jika hasil pengukuran tidak memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran > baku mutu) maka diberi skor 1. Kemudian, Jumlah negative dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status mutunya dari jumlah skor yang didapat dengan menggunakan sistem nilai.

Hasil

Lokasi pengambilan dan jumlah percontoh ditentukan berdasarkan pada tujuan pemeriksaan air permukaan dan atau air tanah. Kualitas air tanah dipengaruhi oleh tiga komponen, yaitu material (tanah dan batuan) yang mengandung atau yang dilewati air tanah, jenis aliran, dan proses perubahan akibat pencemaran yang sesuai dengan hukum fisika, kimia, dan biologi. Metode analisis kimia, fisika, dan biologi percontoh air mengacu pada Standars Methods (APHA-AWWA-WEF, 1995) dan standar Nasional Indonesia (BAPEDAL, 1994), serta Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/MENKES/PER/IX/1990 untuk syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum.

Hasil analisis fisika-kimia-biologi air terhadap delapan percontoh air sumur gali dan sumur pantek tersebut tidak memenuhi persyaratan minum. Percontoh air terlihat keruh (dua percontoh), mempunyai nilai pH rendah (tujuh percontoh), tingginya kadar besi (satu percontoh), mangan (dua percontoh), Pb (delapan percontoh), nitrit (satu percontoh), nitrat (satu percontoh), dan mengandung bakteri coli tinja (empat percontoh). kemudian dibandingkan dengan nilai persyaratan air minum yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 416 tahun 1990.  maka diperoleh nilai: -64 yang berarti kondisi perairan termasuk kelas D atau buruk. Dan hasil yang diperoleh dari penilaian sistem STORET disimpulkan bahwa mutu air tersebut buruk. (sumber: penelitian kelompok 7, jurusan pendidikan geografi 2013)

Disusun Oleh:

Rifany Musthafanisa (1807369)

Giansyah Ramdani (1808631)

Wildan Maolana Mubarok (1808621)

Aji Wijaksana (1807277)