|

Eminence Lecture 2025 mengangkat tema “3D Geospatial-Based for Disaster

Eminence Lecture 2025 mengangkat tema “3D Geospatial-Based for Disaster

Sumber: Dokumentasi penulis

Management: Building a Smarter and Safer Indonesia”, menyoroti bagaimana teknologi geospasial dan kecerdasan buatan digunakan untuk meningkatkan ketangguhan Indonesia terhadap bencana. Dr. Riantini Virtiana merupakan seorang dosen di ITB memaparkan integrasi 3D digital modelling dan machine learning remote sensing untuk mendeteksi kerusakan bangunan pasca-bencana. Pendekatan ini berfokus pada pemodelan struktur fisik bangunan secara rinci menggunakan BIM (Building Information Modeling), serta pengklasifikasian tingkat kerusakan (destroyed, damaged, no damage) berdasarkan citra satelit melalui algoritma seperti Random Forest dan CNN. Data yang digunakan mencakup Sentinel, WorldView-2, Copernicus, dan xBD. Dengan akurasi sekitar 60%, sistem ini membantu melakukan tagging dan evaluasi kerusakan untuk menghitung risiko secara spasial, berdasarkan kombinasi hazard (ancaman), exposure (jumlah aset terdampak), dan vulnerability (tingkat kerentanan struktur), dengan formula risiko R = (H + E) / V. Sementara teknologi BIM digunakan untuk menyusun taksonomi bangunan melalui Level of Detail (LOD) 0–3, sehingga profil bangunan dapat dianalisis secara sistematis dan akurat.

Sumber: Dokumentasi penulis

Materi Ir. Kristianto, M.Si dari Badan Geologi mendukung pemaparan tersebut dengan menjelaskan pentingnya sistem peringatan dini, khususnya untuk bencana letusan gunung api. Ia menyoroti sejarah erupsi besar seperti Tambora (1815) dan Krakatau (1883), yang berdampak global hingga memicu anomali iklim. Erupsi gunung api dikelompokkan ke dalam tiga mekanisme: magmatik, freatomagmatik, dan freatik. Bahaya yang ditimbulkan pun dibagi menjadi primer (awan panas, lava) dan sekunder (lahar, longsor). Dengan 127 gunung api aktif di Indonesia memiliki jumlah terbanyak di dunia pemantauan aktif dan edukasi masyarakat menjadi komponen penting mitigasi.

Sumber: Dokumentasi penulis

Adhityo Susilo dari Leica Geosystem dan Rio Indra Pangestu dari PT Datascript menambahkan perspektif industri melalui teknologi monitoring dan 3D reality capture. Alat seperti Leica Nova TM60 dan sistem GeoMos memungkinkan pemantauan realtime terhadap infrastruktur kritis seperti jembatan dan gunung api menggunakan sensor presisi dan pemodelan spasial. Sementara itu, reality capture dari PT Datascript digunakan untuk simulasi skenario bencana, pemantauan infrastruktur, dan pengembangan tata kota jangka panjang. Keunggulannya adalah kemampuan menghadirkan visualisasi kondisi riil pasca-bencana yang dapat mempercepat proses pengambilan keputusan di lapangan.

Penulis: Rachel Vio Pramita (2023) dan Siti Pratiwi (2023) 
Penyunting: Deden (2023)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *